Minggu, 12 Mei 2013

Rahasia Pelangi


Tak terkira milikimu adalah hal terindah yang pernah ku dambakan.
Tak terkira dekapanmu adalah hal terindah yang pernah kudapatkan.
Takkan rela melepasmu walau dihadapanmu ku akan terus menangis... Bahagia.
*seventeen-hal  terindah

            Lagu itu terus mengalun bersama kebahagiaan tak terkira ini. Kebahagiaan tak terduga, kebahagiaan yang sempat tertunda dan kebahagiaan yang sempat sia-sia begitu saja. Namun kini kehadirannya memberikan warna baru yang jauh membahagiakan dalam hal apapun. Aku tak akan pernah pergi.
            Kebahagiaan itu tak pernah merangkak untuk pergi tapi ia akan berlari ketika menghampiri. Ia tak perlu dikejar namun biarkan ia datang dengan sendirinya. Sama ketika untuk kesempatan terbaik ini aku mengenalimu kembali. Kamu yang sempat hilang tanpa kabar. Bertahun-tahun namun hatiku takkan pernah berubah walaupun kamu tak lagi mengenalku. Kesempatan baik itu selalu datang pada mereka yang selalu berusaha tak pernah lelah mencoba mamperbaiki semua yang kelam.
            Hingga saat itu tiba, saat Tuhan dengan kasih dan sayang-Nya mengulurkan tangan-Nya dengan cara yang begitu indah. Dengan cara yang tak terduga dengan hati yang tak lagi terlalu berharap. Banyak kata yang tak mampu terungkap.

“JANI” teriak seseorang memanggil namaku, namun aku tak melihat siapapun dipesta ini. Aku masih mencari. Tak lama seseorang melambaikan tangannya ke arahku. Aku tersenyum lebar. Ia perempuan baik hati, Arini.
“ Arini. Kangen banget sama kamu. Udah lama banget ya kita nggak ketemu” jawabku sambil memeluk erat tubuhnya.
Ia tampak berfikir, mungkin mengingat-ingat sesuatu. “ 7 tahun , Jani. Selama itu kita nggak ketemu. Akhirnya kita ketemu ditempat ini. Benar-benar tak terduga” jawabnya dengan mata berbinar-binar.
“Really miss you. Really miss your brother” jawabku sekenanya.
“Masih aja deh kamu ,Jani” ia terkekeh geli.
“Namanya juga cinta” aku cengar-cengir sendiri.
“Masih berharap?” kali ini wajah Arini berubah serius.
Aku mengangguk yakin, selama ini aku memang hanya menanti sosoknya. Sosok yang bisa melindungiku tanpa harus aku memintanya. Ia tak pernah lenyap dari doaku dalam setiap sujudku dalam setiap derai air mataku, dalam setiap langkah perjuanganku dirinya adalah motivasiku. Walaupun aku tahu semua takkan pernah seindah mimpi dan imajinasiku. Namun, aku tetap berusaha menjadikan diriku yang terbaik. Aku tak peduli sesakit apapun masa lalu itu. Ia hanyalah bagian dari mimpi , imajinasi dan mungkin –masa depanku-.
Ia satu-satunya lelaki yang mampu membuatku terus mempertahankan namanya dalam jutaan detik yang terlewat. Dalam ribuan kilo jalan yang ku tempuh, hanya ada dia. Walaupun aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang hanyalah dirinya yang bersemayam dijiwa ini.
“Dia udah nikah? “ aku bertanya ragu-ragu.
“Belum sayang, dia belum nikah. Mau daftar?” jawabnya terkekeh geli.
Aku hanya tersipu. “Daftarnya kemana ya?” aku balik meledeknya.
“Ke aku boleh kok ,Jan.” Arini menjawab serius.
“Nanti kita bicarakan lagi ya. Lagipula kakakmu itu belum tentu mau denganku” Aku menjawab apa adanya. “Lagipula aku masih mau mikir-mikir dulu ya”
“Masih teringat peristiwa 5 tahun yang lalu ya?” Ia bertanya dengan sangat hati-hati.
Sejujurnya memang aku merasa seperti itu. Rasa dimana aku tak pernah tau mengapa tak pernah ada kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Saat aku sendiri tak pernah tahu tentang apa itu cinta, tentang betapa perihnya ditinggalkan mereka yang kita cintai. Aku hanya punya emosi, dimana aku tak pernah bisa tanpa bayangnya. Namun , kini aku begitu memahami rasa ini bukan hanya emosi. Jika ini hanyalah emosi seharusnya rasa ini telah hilang bersama menghilangnya dirinya.
            “Maaf yaa” Ia terbata-bata mengucap kata itu. Aku hanya menggeleng ringan.
“Itu hanya masa lalu, Arini. Tak ada yang perlu dimaafkan, karena memang tak ada yang salah. Hanya kesempatan yang belum berpihak atau mungkin malah enggan menghampiri” Aku menelan ludah, sedikit sesak mengungkapkan apa yang sebenarnya tak pernah ingin dibahas lagi. “Arini, bagaimana pun caranya, sesulit apapun jalannya jika aku dan kakakmu berjodoh maka Tuhan akan memberikan aku padanya, mempersatukan aku dengannya. Namun, jika aku bukan jodohnya sekuat apapun rasa ini, sejauh apapun aku mempertahankannya aku tak pernah mungkin bersatu. Kamu harus paham, Arini. Jodoh itu tak semudah yang dibayangkan” Aku menghela nafas panjang memeluk tubuh hangatnya.
Setelah berjalan menjauh, menghindari percakapan yang mungkin akan merobek hati yang pernah hancur, kemudian dengan perjuangan panjang aku berhasil menatanya kembali. Sebaik atau seburuk apapun masa lalu ia akan kalah dengan masa depan. Masa lalu tak akan pernah bisa diperbaiki, berbeda dengan masa depan yang masih bisa direncanakan , diperbaiki bahkan diubah.
“Arin , aku pulang duluan yaa” Aku berpamitan pada Arini.
            “Hati-hati ya” ucapnya riang. “Main ke rumah, kita selalu menunggu kamu” lanjutnya sambil memelukku.
            Aku membisu mensyukuri apa yang terjadi hari ini, setelah sekian lama tak pernah ada cerita, hari ini dengan keindahan yang Tuhan berikan aku kembali bertemu dengannya. Memang bukan dengannya secara langsung, melalui perantaraan. Namun inilah yang disebut kuasa Tuhan, dengan cara yang indah Tuhan kembali mempertemukan aku dengannya.


“Kau tahu? Berapa detik aku menunggumu? Menunggumu tanpa kepastian dan penjelasan?” aku meracau tak karuan. Kesal karena aku dibilang tidak setia. Ia hanya terdiam lalu memelukku erat, erat sekali hingga aku sulit bernafas.
            “Harusnya dulu aku tak pernah meninggalkanmu, walau hanya sejengkal dalam hidup ini. Kau terlalu indah untuk dilepaskan. Berjanjilah untuk terus bersamaku, aku janji aku akan menjadi yang terbaik untukmu, aku akan menebus waktu yang pernah tersita untuk menungguku, untuk hati yang tak pernah berpaling, untuk hatimu yang tak pernah lelah menungguku, untuk hati yang selalu ikhlas mendoakanku. Untuk hati yang rela terluka untuk bahagia. Aku mencintaimu mulai hari ini dan seterusnya” ia menjawab panjang sambil mencium keningku.
            “Aku selalu ada untukmu, aku selalu menyertakanu dalam setiap doa yang tak pernah putus. Dalam bahagia yang tak pernah terkira, aku selalu mendoakanmu bahagia. Walaupun aku amat tersiksa hanya dapat hidup bersama mimpi tentangmu, tentang angan yang tak pernah sampai. Tapi aku selalu berdoa, aku ingin bertemu denganmu lagi sebelum ajal menjemputku. Kau adalah kekuatan saat aku sendiri meragukan kekuatan itu. Hanya membayangkan dirimu, aku mampu bertahan sampai saat ini” aku menarik nafas panjang “Aku selalu tahu kabar tentangmu, bahkan aku tahu saat kau merasa sakit, aku tahu itu. Aku juga merasakannya, jauh sebelum kita tak pernah berjumpa 5tahun lamanya aku selalu meminta agar Tuhan menitipkan hatimu padaku agar aku tahu kapan aku harus kembali lagi padamu, mungkin kali ini terlambat. Aku terlalu lama berfikir”
            “Harusnya aku kembali kepadamu dengan hati yang masih utuh. Tidak hancur seperti ini”
            “Aku tak pernah meminta hatimu utuh untukku, aku hanya ingin hidup bersamamu. Hari ini dan seterusnya. Walaupun kita tidak berjodoh, aku ikhlas. Beri aku waktu untuk menebus kebahagiaan yang tersita” aku memeluknya erat.
***
Tepat 5 tahun  lalu, Juli 2007. Aku terdiam menatap sebuah foto dalam genggaman tangan salah seorang kawan, entah mengapa aku begitu terpesona dengan foto itu. Ya, foto seorang lelaki yang aku sendri belum tahu identitasnya.
            “Apa Jani?” ledek temanku yang mememgang foto itu.
            “Itu siapa?” Tanyaku malu-malu.
            “Itu sepupu aku” Jawabnya lembut.
            “Lucu ya” aku berkomentar kagum.
            “Nanti aku kenalkan” ia berjanji sambil mengacungkan jari kelingkingnya. Aku tersenyum riang. Hatiku berbunga-bunga menunggu pertemuan singkat itu walaupun aku tak tahu bagaimanakah orang itu tapi jantungku terus berdetak cepat dan terus meningkat kecepatannya.
            Karena aku mencintaimu dan hatiku hanya untukmu
            Ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Aku tak mengenal nomor itu, aku abaikan saja panggilan itu. Tapi ponselku terus berdering. Tiba-tiba ada tanda sms masuk.
 1 messeage. Received
Gilang
Jani, itu tadi yang telp lo sepupu gue.
Kenapa ngga diangkat?

            Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, tersenyum sendiri. Langsung saja aku balas pesan itu tanpa harus berfikir berulang kali, rasa ini berbeda pasti ini yang disebut cinta. Ohh My God.
            Sent .
            Gilang
            Maaf gue ngga tahu, nanti gue sms deh ya. Thx

            Belum sempat aku mengirim pesan pada sepupu Gilang , ia sudah terlebih dahulu mengirimkan pesan kepadaku. Ia mengenalkan dirinya, bertanya kabarku, menceritakan sahabatnya, aktivitasnya disekolah, ia menceritakan semuanya. Ia bertanya tentang aktivitasku, prestasi akademikku, kesibukkanku antara sekolah – rumah sakit – tempat kursus. Aku pun menceritakan semuanya.
            Pertemuan singkat itu akhirnya terjadi, tak seperti yang aku bayangkan sebelumnya. Indah! Sangat indah. Andai bisa aku lukiskan mungkin jutaan bintang sudah menari di atas kepalaku mungkin pelangi pun enggan pergi dari kamar fikirku. Terus bersemayam hingga batas waktu yang tak akan pernah berakhir.
            Kami saling pandang, saling mencuri pandang malu-malu untuk saling melihat. Getaran itu semakin kuat. Aku mencoba memejamkan mata, mengartikan rasa apa dihati ini.
            “Pasti Gilang cerita yang aneh-aneh deh sama Kak Chino” aku berceloteh manja.
            “Ya gitu deh” ia menjawab singkat. Meledek
            “Ah.. Kak Chino ngga asik” aku mengeluh sebal.
            “Kamu ngga seperti yang Gilang katakan. Kata Gilang kamu itu pendiam tapi ternyata berisik ya kalau sudah kenal” ia mencubit pipiku.
            “Waktu merubah segala hal ka, waktu menjadikan kita menua tapi tidak menjadikan aku lebih bijaksana”
            “Kakak ngga tahu kenapa kakak bisa bahagia banget kalau dekat kamu. Kakak nyaman, kakak bisa tertawa lepas bahkan setelah kakak sampai dirumah kakak hanya memikirkan kamu” ia mengucapkannya serius kalimatnya itu matanya seoalah ikut berbicara. “Aku mencintaimu”
            “Aku selalu bahagia bersama orang yang menyayangiku” aku hanya membatin. Menatap lekat wajahnya, aku tak mau ia pergi walau hanya sejengkal. “Aku masih terlalu kecil untuk mengerti tentang cinta ka”
            “Kita akan mengerti setelah kita menjalaninya bersama” ia memaksa.
            “Belum waktunya kak Chino, terlalu cepat. Aku baru 13 dan kakak 17. Belum waktunya untukku, ini saatnya aku mengejar mimpi-mimpi yang belum tuntas” aku mempertahankan jawabanku.
            Sejak saat itu ia tak lagi menghubungiku, tak ada lagi kabar tentangnya. Ia bagai ditelan bumi menghilang tanpa jejak. Aku beruntung aku mengenal adiknya, Arini. Kami masih terus berkomunikasi, tapi hanya berjalan begitu cepat. 2 bulan kemudian ia ikut menghilang. Hatiku makin membeku, tak pernah lagi aku merasakan getaran itu. Semua terasa begitu datar.
            Aku terus menunggunya, tahun pertama luka itu tersimpan jelas. Aku terus berdoa, aku hanya ingin bertemu dengannya, lalu aku bilang bahwa aku mencintainya, sudah itu saja. Tapi tahun pertama tak berjalan mulus, tahun itu aku hanya meminta agar aku dipertemukan dengannya kembali. Namun aku tak bertemu dengannya.
            Tahun kedua tak jauh berbeda dengan tahun pertama, kali ini aku lebih ikhlas. Aku mencoba tak memaksakan takdir, biar ia berjalan sebagaimana semestinya. Tahun ini aku berhasil bertemu dengannya, sayangnya hanya dijalan dengan kondisi ia sedang terburu-buru jadi ya mana sempat untuk mengatakan semua yang aku rencanakan. Tahun ini doaku bertambah, aku ingin ia terus bahagia. Aku mendoakan seluruh kebahagiaannya, mendoakan ia bahagia dengan pasangannya. Ia bahagia selama beberapa tahun, badannya sedikit berisi. Aku tersenyum bahagia. Tuhan mengabulkan doaku.
            Tahun ketiga, aku lebih ikhlas. Mungkin Tuhan belum mengizinkan kebahagiaan untuk aku bisa bersamanya. Tahun ini aku mencoba membuka hati, hati yang baru. Aku belajar untuk mencintai lagi, mencintai orang yang berbeda. Dengan ciri fisik yang serupa, dengan sikap dan sifat yang begitu mirip. Aku mencoba membahagiakan diriku setelah sekian lama aku mendoakan kebahagiaan untuk orang yang tak jelas rimbanya.
            Pria itu biasa dipanggil Awan, ia bersahaja, berkharisma, kecil mungil dan lucu sekali. Ia salah satu kebanggaan sekolah, aku sendiri tidak tahu mengapa ia bisa memilihku untuk dicintai. Ia begitu energic dan aktif. Ia motivator tehebat dalam hidupku, ia selalu bisa menyejukkan hatiku.
            Hingga suatu hari dipenghujung tahun 2010, aku tak pernah bermimpi apapun. Aku hanya merasakan intensitas kebahagiaan tak terkira. 16 hari 18 jam 50 menit aku terus berada disampingnya, mendampinginya kemanapun selagi aku bisa.
            “Jaaaannnnnnnnniiiiii” seorang terman berteriak disertai isak tangis, setengah berlari memelukku.
            “Ada apa, April?” aku mencoba tenang. Ia hanya menangis dibahuku tak mengucap sepatah kata pun, membisu dalam tangisan.
            RECEIVED
            Gladis
            Jan. Awan udah dtg?


            Hatiku semakin tak karuan, mengapa hari ini semua seakan berbeda, tatapan itu tangisan itu. Semuanya dan semuanya, semua temanku berlomba-lomba berlari. Aku semakin bingung, tangisan April semakin menjadi. Aku bingung sejak tadi ia aku tanyai tak menjawab apapun, tiba-tiba seluruh sekolah menjadi panik. Hari itu hari panik disekolahku.

            SENT
            Gladis
            Belum, kenapa?

            RECEIVED
            Gladis
            Awan kecelakaan di dekat sekolah, anak-anak pada kesana. Doakan yang terbaik untuknya.

            Darahku seakan berhenti mengalir, tubuhku ikut melemah. Aku balik memeluk erat April. “Jujur aja, Pril” aku bertanya untuk kesekian kalinya bibirku bergetar, ikut menahan tangis. Ia tetap tak bergeming. Teman-temanku membuat keputusan sepihak, mereka mengunciku didalam kelas aku tak boleh ikut bersama mereka.
            “Nanti gue kabari” teriak Ari dari jauh.
            “Tetap berdoa, tabah ya, ikhlas” Ucap Zaid.
            Teman yang lain tak henti membaca pesan yang tak pernah diberitahu kepadaku apa isinya. Aku hanya berdoa. Mereka sudah mengetahui keadaan Awan, tapi mereka tak memberitahukannya kepadaku.
            RECEIVED
            Gladis
            Jani, yang sabar yaa Sayang.
            Awan udah dipanggil sama yang Maha Kuasa.
            Ikhlaskan ya sayang, lo pasti bisa.
            Lo kan hebat yaa :D
            Keep fight ya

            Aku terjatuh dalam pelukan sahabatku, aku menangis sejadi-jadinya. Aku memaksa seluruh temanku untuk menemaniku menemuinya untuk yang terakhir. Aku masih tak percaya, aku menghubungi temanku berada di tempat kejadian. Bohong  itu, Awan baik-baik aja. Ucap salah satu teman yang berada disana.
            Hatiku semakin tak karuan, penasaran dengan apa yang terjadi. Hari itu, hari terburuk sepanjang hidup baruku, sepanjang penantianku yang tak berujung, sepanjang aku berjuang membuka hati, hasilnya seperti ini. Hatiku jauh lebih hancur, lebih jatuh. Remuk redam.
            Pada akhirnya aku sendiri untuk menemui Awan untuk terakhir kali. Aku lihat jasadnya yang tak lagi sempurna. Terimakasih telah menyempurnakan hatiku, relakan aku menjalani hidup sesuai yang Tuhan gariskan. Bukan aku tak mencintaimu, tapi aku terlalu rapuh untuk terus mengenang kejadian ini. Terimakasih untuk 16hari 18jam 50menitnya. Terimaksih untuk kesempatan indah itu, terimakasih sudah membimbingku kembali membuka hati. Tenang yaa disana. Aku berbisik pelan ditelinganya, sakit rasanya harus kembali kehilangan. Walaupun ia tak lagi mendengar semoga ia selalu hidup dengan kedamaian.
            Hatiku kembali dibuat hancur tak karuan dengan kejadian itu, bagai mimpi. Aku masih sangat tidak percaya. Mengapa takdir cintaku harus sesulit ini. Mengapa hatiku harus hancur berkeping-keping dahulu, mengapa aku tak langsung mendapatkan cinta itu? Mengapa? Mengapa Tuhan? Apa salahku hingga Kau menghukumku dengan cara seperti ini?
Waktu terus berjalan, tahun keempat aku disibukkan dengan kesedihanku, sibuk menutup luka yang terbuka begitu hebat. Kehilangan luar biasa tapi harapan itu masih ada. Aku masih berharap bertemu kembali dengan Kak Chino. Tuhan, sekali saja. Sekali saja Tuhan, aku hanya ingin mengatakan kepadanya bahwa aku benar-benar menyimpan segala kenangan tentangnya. Aku tak pernah lupa, Tuhan. Tuhan, sekali saja aku ingin mendengar desah nafasnya.
                                                                        ***
            “Masih aja berharap sama Chino, Jan?”  wanita paruh baya  itu bertanya serius “Chino akan menikah tahun ini, sebaiknya kau buang harapan itu” ia melanjutkan kalimatnya. Sinis.
            “Aku akan mendoakan segala kebaikan untuknya” senyum getir itu tersungging dari bibirku. “Kebahagiaannya adalah jalan membuatku bahagia, aku akan bahagia. Doaku tak pernah terhenti untuknya” aku menarik nafas panjang.
            “Dia akan menikah tahun ini” Arini tiba-tiba datang kemudian mengucapkan kalimat itu.
            Air mataku tak sanggup untuk ditahan “Tahun ini? Dengan siapa?”
            “Dengan wanita yang rela menunggunya bertahun-tahun, wanita itu yang tak pernah meninggalkan Kak Chino walau sedetikpun, tak pernah membuat kak Chino bersedih” Arini menjawab serius.
            “Katakan padanya, aku tak akan pernah berhenti mendoakannya. Semoga berbahagia selalu, salam untuk ayah dan Kak Citra juga. Aku selalu merindukan kehangatan dari keluargamu. Pastinya aku juga akan semakin merindukanmu Arini” aku langsung berlari bahkan aku tak sempat pamit. Semua begitu terasa menyesakkan dada, seperti terhimpit ditengah bebatuan. Sesak sekali.
            Dada ini terasa sempit, sesakit itu cinta yang selama ini aku nantikan? Sesakit iini balasan untuk kesetiaanku menunggunya? Tuhan, bahagiakan dirinya selalu. Aku lantas berlari menjauh, menjauh dari hidupnya, melupakan semua mimpi dan imajinasi yang sempat  tersimpan. Memang kini waktunya membuang semua itu jauh-jauh.
            Tiba-tiba wanita paruh baya itu mengejarku, berteriak memanggil-manggilku. Aku tetap melanjutkan berlari dengan hati yang tak lagi utuh, sebagian dibawanya lari. Intensitas kebahagiaan luar biasa saat bertemu dengannya harus berakhir seperti ini.
Wanita itu berhasil mangejarku menenggelamkanku dalam pelukannya “Kau bilang kau akan mendoakannya bahagia? Mengapa kau malah menangis mendengar kabar itu, Jani? Kau harus ikhlas ya”.
“Ayah, ibu, ka Citra, dan Arini juga akan selalu mendoakan kebahagiaan untukmu, Jani, ibu akan menyampaikan semuanya pada Chino” ia mengghentikan kalimatnya
Ayah tiba-tiba hadir ditengah keharuan itu, ia menatapku tajam “Anjani, selama kau tulus mencintai seseorang, kau pun berhak untuk mendapatkan ketulusan itu”
Ka Citra ikut berlari memelukku, bersama suami dan anaknya ia menghampiriku, membuat suasana semakin mengharu biru. “Chino hanya ingin menikah dengan wanita yang rela menunggunya bertahun-tahun dalam penantian panjang, dalam kesempatan yang tak pernah hadir dan dalam doa yang tak pernah putus”
“Bukankah kau sendiri yang selalu berkata bahwa hakikat cinta sejati itu melepaskan?” Chino tiba-tiba mengejutkanku dengan kata-katanya, terdengar sinis.
Aku hanya menundukkan kepala, menangis sepuasnya tak peduli lagi ada siapa pun dihadapanku.
“Bukankah kau sendiri yang mengatakan, jika kau mencintai seseorang lepaskanlah ia. Jika kau benar-benar ingin bersamanya ambillah dengan cara yang baik” Chino menatapku tajam. “Bahkan kau sendiri yang seringkali mengatakan kepadaku, bukankah jodoh itu rahasia? Ia akan menghampirimu dengan cara yang tak pernah terduga”
“Lepaskan, ikhlaskan dan tunggu keajaiban itu“ kali ini ibu membuat hatiku semakin tak karuan.
“Aku hanya akan menikah dengan wanita yang bisa menerima kekuranganku, yang dapat menemaniku dalam masa-masa tersulit dalam hidupku, wanita yang menangis bersamaku bukan menangis karenaku atau aku menangis karenanya, yang rela menungguku tanpa kepastian kapan aku ada untuknya. Wanita yang selalu mencintaiku dan keluargaku”
Aku mengangkat kepalaku, menatap tajam pada mereka yang sejak tadi terkesan menghakimiku “Jodoh itu memang rahasia dan aku sudah ikhlas apapun keputusan kalian. Aku menunggumu karena aku tahu kau adalah orang yang selalu pantas untuk aku tunggu, bukan karena waktu itu kau berada diatas kesuksesanmu”
“Kau datang saat aku tak bisa mengendalikan hatiku, saat hidupku disibukkan dalam kekecewaan masa lalu itu. Kemudian kau hadir memberikan semua itu, kau yang kembali memberiku warna cerah saat hatiku abu-abu. Kau yang selalu menemaniku dalam masa-masa sulit itu, kita menangis bersama. Bahkan kau yang mampu mengubah hatiku ketika pertemuan pertama untuk kedua kalinya. Pada hari itu aku tanpa ragu memutuskan, kaulah yang selama ini aku tunggu” Chino menatapku nanar. Mereka tersenyum ke arahku.
“Tahun ini, Chino sudah memutuskan. Ia akan menikahimu, Jani” Mereka serempak mengucapkan kalimat itu. Hatiku berdesir hebat Ini pasti mimpi.
Aku terkejut dengan ucapan itu, “Ibu?” lidahku kelu, tubuhku bergetar hebat.
“Ibu serius Jani”
Air mata itu tumpah semakin hebat, kesabaran dan keikhlasan itu berbanding lurus. Aku memeluk mereka erat-erat. Seerat saat aku bertahan dan berjuang mempertahankan cinta ini. Mereka semua memelukkku menangis bersama, tangisan bahagia.


SELESAI
           
           
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...