Minggu, 02 Juni 2013

Semangat Rindu



Jiwaku sudah jauh terperangkap dalam lembah kesedihan tak terkira, menjerit-jerit dalam linangan air mata duka. Menatap sendu pada semua ironi kehidupan. Mungkin tak akan kembali seperti sedia kala namun keyakinan ini membuatku yakin bahwa akan ada yang lebih baik, bukan sekedar tumpukan imajinasi tapi lebih dari apapun, apapun yang takkan mudah terlupakan. Kenangan. Begitu aku menyebutnya.
            Jauh sudah kaki ini melangkah, menjauh dari kenyataan getir, pahit serta asam. Namun, semakin menjauh semua itu semakin telihat semakin nyata. Sejauh apapun aku melupakan ruang diotak ini tak pernah mampu menghapus secara keseluruhan. Tak pernah ada yang sempurna, selalu tersisa serpihan kenangan itu.
            “Hari ini ayah tak pulang bu?” aku bertanya pada ibu, melayangkan pandangan keseluruh ruangan.
            “Tunggu saja sebentar lagi, tak akan lama” ibu menjawab sekenanya sambil membereskan tumpukan piring kotor. Aku mengambil alih pekerjaan itu meminta ibu menyingkir. Sambil memberikan isyarat Biar aku saja ,bu.
            “Tak perlu terlalu cemas seperti itu Rindi” ibu menenangkan hati yang gelisah ini.
            “Laut sedang  tak bersahabat ibu, aku takut. Perasaanku tak karuan, berfikir tak tentu dalam sekali sampai dadaku terasa sesak. Aku tak dapat menghubungi ayah” aku membalikkan badanku, berlari menuju kamar.
            Ibu hanya menatapku dari jauh, walaupun aku tahu sebenarnya ia juga khawatir. Ia terlalu cerdas menyembunyikan perasaannya itu. Entahlah kesetiaan macam apa yang ia miliki, walaupun aku tahu ayah diatas kapal sana pada saat berlayar selalu di goda banyak wanita dan kabar buruknya, ia tergoda.
            Entah bagaimana hati itu terbuat, begitu tulus memafkan bahkan tangan kecil itu selalu memberikan yang terbaik, senyuman itu tak pernah habis hanya karena semua yang menyakiti hatinya, begitu mulia. Terkadang aku yang menjerit-jerit sendiri dalam hati, mengutuk semua yang terjadi. Menyalahkan keadaan, menyalahkan takdir, mungkin juga menyalahkan Tuhan.
            Pandanganku menerawang ke arah televisi, berita sore itu menyiarkan tentang tenggelamnya sebuah kapal, bukan hanya tenggelam namun kapal itu juga terbakar. Hangus tak bersisa. Bibirku mulai bergetar, tangisan itu mulai pecah. Diam-diam ibu berlari ke kamarnya tanpa suara. Aku berusaha mengejarnya, namun pintu itu sudah terlebih dahulu tertutup. Aku yakin, ia menangis sejadi-jadinya didalam kamar. Mereka menghabiskan berpuluh tahun bersama, cinta dan  kesetiaan diuji. Semuanya lulus, tapi mengapa harus seperti ini.
            Aku bergegas menuju pusat terjadinya kecelakaan itu, 7jam dari tempat tinggalku saat ini, menggunakan pesawat super lambat, jadwal yang terulur jauh dari ontime. Meninggalkan ibu sendirian dirumah.
            “Ibu ikut ya, Nak” matanya berbicara seperti itu, aku pura-pura tidak tahu, hanya terukir senyum “Ibu, aku berangkat. Maaf aku tak bisa mengajak ibu, ada tugas setelah aku mencari ayah” aku coba menjelaskan, lari dari berbagai pertanyaan.
***
            Tiba ditempat ini sama saja aku menghadapi semua luk , semua tangisan tak terkira, jika diperbolehkan aku akan menangis sekencang-kencangnya banhkan aku siap menjerit dengan suara paling tinggi. Namun, tujauanku datang kesini bukanlah untuk menangis, aku datang untuk mencari ayah. Aku harap masih hidup walaupun sudah tak bernyawa lagi aku akan tetap membawanya pulang. Menguburkan jenazahnya.
Aku berlari menemui tim evakuasi, mencari informasi sebanyak-banyaknya. Mendekati satu persatu petugas yang menenakan seragam hitam-hitam. Aku menghampiri mereka, tak ada yang berhenti mengevakuasi para korban. Meletakkan dibibir pantai. Tak ada jasad ayah.
Kau tahu? Aku sudah sangat lama menunggu, lebih dari seminggu namun tak juga ditemukan jasad itu, hanya angan yang menyelimuti mengharapnya datang kembali, memelukku erat. Aku bagai dihadapkan pada sebuah tebing besar, aku terus menunggu tanpa lelah hingga akhirnya seseorang datang dari tengah laut seusai memencing ikan.
“Kenapa pak? Kok cemberut gitu?” tanyaku hati-hati.
“Ini dik, saya mau carikan kok malah dapat sendal jepit butut” ia menggerutu sambil memperlihatkan hasil tangkapannya. Aku tertegun, itu sandal ayah. Sandal yang selalu mengikuti langkahnya kemanapun. Aku menangis. Memutuskan kembali ke rumah. Pulang.
***
Berkali-kali aku mencoba mengakhiri hidupku, mencoba untuk Pulang. Aku membuat luka baru, membuat garis lurus tepat di pergelangan tanganku. Aku terlalu lelah tanpa ayah disini, aku terbiasa menyelesaikan semua hal dengannya. Kini ia sudah kembali aku hanya bisa menahannya, menahan dalam tangisan. Dalam sesak yang tiada bertepi.
“Rindiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiii....” ibu berteriak sebelum aku menggoreskan luka dilenganku, melemparkan pisau yang berada ditangan kiriku, memelukkku erat. “Jangan seperti ini, nak. Jangan membuat ibu semakin sedih. Cukup ayah yang meninggalkan ibu, jangan kamu, nak. Ibu tak akan senggup” ia menangis terisak-isak hingga aku mendengar nafasnya yang tak teratur itu.
“Ibu maafkan Rindi, Rindi nggak kuat bu” aku mengeluh pasrah.
“Kamu tak boleh bicara seperti itu, orang hidup itu harus kuat. Hidup itu harus banyak berjuang bukan mengeluh seperti ini.Allah benci Rindi, Allah benci hamba-Nya yang selalu berputus asa. Kamu boleh berduka, tapi jangan terlalu lama, agama pun tak mengizinkannya” ibu mendekatiku, menjauhkan pisau  itu dari jangkauan tanganku. Takut-takut aku akan kembali mengambilnya. “Ibu memang tak seperti ayah yang selalu bisa mendengarkan ceritamu, mulai hari ini kamu harus belajar semuanya. Belajar menghadapi kenyataan. Hidup itu tak selalu mudah, tapi jug atak melulu sulit. Percayalah nak, selalu ada kemudahan setelah kesulitan. Serahkan semunya pada Allah nak, kamu boleh curhat masalah apapun. Allah akan memberikan jalan keluarnya”
“Ibu, seharusnya aku bisa bantu ibu. Bukan menyusahkan ibu seperti ini. Aku bisa saja berhenti kuliah agar ibu tak perlu bersusah payah bekerja seperti ini” aku  memeluknya erat.
“Tak perlu, Nak. Ibu harus mencari jalan agar kamu bisa terus belajar” ibu membalas pelukanku. Erat sekali.
“Ibu kan tak boleh lelah” aku memperkuat alasanku untuk meninggalkan bangku kuliah itu. Ibu menggeleng mantap.
“Ibu takkan lelah selama kamu tetap semangat” matanya menatapku penuh harapan. “Jangan ulangi lagi ya” aku mengangguk, berjanji.
***
“Oh ternyata kamu punya jimat ya Rindi” Reza teman sekelasku mengolok-olokku. Aku hanya diam, awalnya tak peduli.
“Pantas saja nilainya selalu baik, minta wangsit dari sandal jepit butut itu ternyata” taman yang lain ikut mengolok-olok juga.
Mungkin hari ini memang kesialan menimpaku, aku tak sengaja membawa sandal jepit itu. Terbawa saat aku terburu-buru menuju kampus. Seharusnya sandal ini ditinggal saja. Aku menggerutu sendiri.
“Tuh kan benar, dia diam aja. Berarti benar kan dugaan kita” teman yang lain mengompori. “Si Rindi kan sering banget lihat itu sandal. Butut aja sering banget dilihatnya. Mungkin ada benarnya juga. Itu sandal ada jimatnya” mulutnya tak berhenti mengucapkan kalimat yang tak jelas itu. Menghina terus.
“Heh, kalu nggak tahu apa-apa nggak usah terlalu banyak bicara. Urus saja yang menjadi urusanmu. Jangan mencampuri yang tak bukan milikmu” aku membentaknya. Mereka terdiam.
***
Sisa-sisa perjuangan itu semakin terasa saat aku melihat sandal jepit butut yang kini aku gantung dikamarku. Aku merasa aku tak ada apa-apanya dibanding ayah. Ia adalah pekerja keras. Perjuangan yang hebat. Sandal jepit ini bukan jimat atau apapun itu namanya. Aku menjadikannya semangat dalam hidup ini.
Semua tergores dari bagaimana bentuk sandal ini pada saat ditemukan, semangat perjuangan yang selalu ada. Untuk menghidupi keluarga ini. Bukan sekedar imajinasi ataupun mimpi. Ini nyata tentang bagaimana seorang ayah menghidupi keluarganya.
Sandal itu selalu akau pandangi lekat-lekat sebelum aku tertidur, sambil membayangkan wajah ayah. Ahh andai saja, tapi aku akan tetap berjuang untukmu. Rindu ini tak pernah habis untuknya. Rindu yang membuatku semangat menjalani apapun yang terbaik. Rindu yang menjadikanku mengenal bagaimana ia bekerja keras.
Rindu melihat wajahnya, jenazahnya tak pernah ditemukan. Tak ada fotonya selembar atau dua lembar, kalaupun ada itu hanya dikartu  identitas, itupun sudah hilang mungkin tenggelam dilautan. Tak ada prosesi pemakaman. Hanya ada doa yang tercurah. Doa yang tak pernah putus. Hanya bisa mengira bagaimana senyumnya. Tersimpan dalam kenangan. Rindu ini semangat perjuanganku.
***
Deevika Rinjani
Bekasi, 31 Mei 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...