Selasa, 24 Juni 2014

ILIFAT : MUDA, BERANI, ISLAMI

ILIFAT :
MUDA, BERANI, ISLAMI

 ILIFAT artinya Kebaikan, Kepatuhan dan Persahabatan (ini ditemukan oleh kak Irene Rahmadinda dalam kumpulan nama anak :D). ILIFAT adalah salah satu nama kelas dalam organisasi pemuda Islam di YISC Al-Azhar. Kami tergabung dalam angkatan Januari 2014. We are Al-Fatih Generation.
            Dibalik nama ILIFAT, kami mempunyai ‘mimpi’ yang luar biasa. Berasal dari arti nama yang sudah tersanding. Kebaikan, kami ingin menjadi pemuda yang tak pernah lelah menampilkan kebaikan. Kami ingin seluruh langkah kami selalu terhias segala kebaikan. Kami berharap kami tak pernah lelah, tak pernah bosan dan tak pernah ragu untuk menyebar kebaikan dilingkungan.
            Kepatuhan, kami ingin menjadi pemuda yang takut terhadap Allah. Patuh dan tunduk dengan seluruh peraturan hidup dan peraturan di masyarakat. Kami ingin menjadi generasi yang disiplin. Maka dari itu, kami ingin patuh dengan semua peraturan yang berlaku.
            Persahabatan, kami ingin hidup bersahabat. Ingin bermanfaat bagi semua orang dan lingkungan. Kami ingin merangkul semua golongan, usia lalu menanam kebaikan. Kami ingin menjadi generasi yang ramah.

            ILIFAT berada dalam sebuah Istana YISC AL-AZHAR. Dipimpin oleh Raja Imam Supandi dan Ratu Gita, tapi ditengah kepemimpinan Sang Raja, Sang Raja mengundurkan diri. Lalu digantikan oleh Panglimanya, Panglima Rizky Rahadi. Lalu sang panglima naik tahta, terkenal dengan nama Raja Rizdi. Kami mempunyai pengeran Mahkota, yaitu Abdul Aziz. Namun ternyata Sang Pangeran Mahkota juga memiliki kesibukan lain diluar istana sehingga ia juga meninggalkan gelar Pangeran mahkotanya. Lalu muncullah Bagus Ibnu Jati Anggoro sebagai Kepala Pemerintahan. Ditemani oleh Wakilnya Muhammad Farid yang juga sibuk tapi tetap bertanggungjawab.
            Dibawah pemerintahan Bagus Ibnu Jati Anggoro, ada juru tulis yang selalu sedia menulis apapun tentang ILIFAT, Putri Raudhatul Astari. Serta lengkap dengan Menteri keuangannya, Jeanitha Tiara dan Nesya Tasya Asmarany. Ada panglima luar biasa yang selalu siap bertempur dalam seluruh kegiatan Al-Fatih Ginanjar Akbar Wicaksono, Fahminoor Muhammad dan Fajar Aidil.
            Daaaaaaaaaaaaaaannn... inilah daftar permaisuri di ILIFAT. Teti Srikurniawati, Irene Rahmadinda, Ferista Dara Nadia, Lobelia Asmaul Husna, Tania Rizkasari, Resty Puji Octaviani, Firma Agnes Ramadhan, Nisa Huda Wati, Duwi Rantika, Arum Komaraawati, Vita Amelia, Zeynita Nurul Miftiani, Dian Nevilita Putri Utami, Dian Nevilita Putri Utami.
            Para permaisuri ini selalu mewarnai kehidupan di kerajaan ILIFAT dan selalu ada setiap kali dibutuhkan. Mereka tak pernah lelah saling membahu.
We are young generation in Al-Fatih and we are dicipline generation.


Disinilah kita berada, dalam komunitas perindu surga.

Sabtu, 21 Juni 2014

Putri



            “Putri...” teriakku kala itu.
Gadis kecil dengan tas sekolah dan seragam super rapi mendekatiku. Ia tersenyum malu-malu. Berlari saat namanya disebut dengan lantang, ada bahagia disana.
“Apa mba?” ia mengulurkan tangannya. Kami bersalaman.
“Mba, aku udah boleh sekolah lagi sama ibu. Kata ibu aku ngga perlu mengamen” ia bercerita dengan mata yang berbinar.
“Iyakah?” aku pura-pura tak percaya.
“Lihat dong sekarang aku udah pakai baju seragam lengkap, tasnya juga baru. Sekarang ibu  jadi baik banget loh mba”
Lalu kami berhambur, saling berpelukan. Alhamdulillah, terimakasih Allah.
***

Gadis kecil itu berlari mendekati setiap angkot yang berhenti di depan matanya, kemudian mulai bernyanyi. Duduk didepan pintu sambil membawa sebuah botol yang diisi beras.
            Aku yang dulu bukanlah yang sekarang...
            Gadis kecil itu bernyanyi sembarangan, nadanya sama sekali tak cocok dengan ketukan irama musik yang ia mainkan..
            Ia mengenakan jilbab mungil dikepalanya, bajunya panjang. Ngga jelek-jelek banget. Batinku kala itu.
            Ia mulai mengedarkan amplop untuk diisi uang oleh orang yang berada diangkot itu. Aku masih asik dengan buku yang ada di genggaman tanganku, urung diberikan amplop.
            Maka tibalah aku disebuah mall. Ternyata pengamen kecil itu juga ikut turun. Aku bergegas menuju sebuah toko buku tempatku bekerja. Ternyata ia juga mengikutiku.
            “Mba kerja di salemba?” ia bertanya. Sambil memperhatikan seragam yang aku kenakan. Kemeja merah dengan rok hitam selutut lengkap dengan highheels.
            Aku hanya mengangguk pelan, meninggalkannya dibelakang.
            Aku tergesa-gesa memasuki toko, setengah berlari sambil menguncir rambut. Setengah melirik jam di depan penitipan barang. Yes belum telat.
            “Tumben lo telat” Mala menegur sambil menyapu lantai kasir.
            “Iya kesiangan” aku menjawab sambil berlari.
            “Yaudah cepat, gue belum nimbang plastik” ia lagi-lagi berteriak.
            Aku hanya mengacungkan jempol kananku.
            Aku mempercepat langkah menuju ruang kerjaku, semoga kepala bagian belum datang.
            “Tumben Zee baru datang” bu Yuni menegurku.
            “Iya bu maaf telat” jawabku sambil menyodorkan kartu absen padanya.
            “Nanti jam 10 datang barang ya, jangan lupa buat General record” ia menjelaskan sambil menghitung uang dipetty cash.
            “Pipit mana bu?” aku balik bertanya.
            “Masuk siang” jawabnya sambil membenarkan sepatunya “oh iya Zee, kan ibu mau ke pusat. Nanti kamu yang atur toko ya”
            “Berarti aku lembur?”
“Iya” jawabnya lagi sambil memberikan kunci petty cash. “Seperti biasa ya, ibu ke pusat dulu” ia keluar dari ruangan.
“oh iya Zee, returnya jangan lupa”ujarnya sambil balik kanan.
“Iya bu”
***
            Tepat pukul 10:00 tim ekspedisi datang dengan membawa puluhan kardus. Aku menyiapkan buku yang biasa digunakan lengkap dengan stempelnya. Serta retur penjualan beberapa waktu lalu.
            “halo pak, sehat?” sapaku pada pak Sugeng. Kepala ekspedisi.
“Alhamdulillah” jawabnya singkat, kumisnya bergoyang-goyang.
“Banyak pak barangnya?” aku bertanya sambil memeriksa form serah terima barang.
“Sedikit. Ada 50 kardus deh pokoknya”
Aku mengambil troli kecil untuk mengambil barang didepan, saat itu toko tempatku bekerja berada di belakang sehingga harus menggunakan troli ini.
            “Je, bantu gue” aku berteriak.
            “Apa si Zee?” Jeje menggaruk kepalanya.
            “Itu sama mas Dwi ambil barang didepan” aku menyodorkan troli.
            Aku masih sibuk memeriksa form, sambil mencatatnya dibuku khusus.
            “oh iya pak, pengiriman yang kemarin itu ada yang cacat. Jadi retur deh. Titip ya pak buat pak Joko” aku menyerahkan lembar retur penjualan. Ia menerimanya sambil tersenyum.
            “Oh iya, mba lihat anak kecil yang suka mengamen didepan sana ngga?” matanya mencari.
            “Yang mana pak?”
            “Itu loh yang pakai kerudung, 6 tahunan deh umurnya”
            “Loh, bapak kenal sama dia?” aku berhenti menulis.
            “ya kenal mba, dia kan sering kesini”
            “Loh? Emang ya?”
            “Mba keseringan diruangan sih. Gimana mau kenal orang” pak sugeng tertawa pelan.
            “Tapi tadi pagi dia ngikutin saya pak, saya jadi takut. Kabur deh” aku ikut tertawa.
            “Apa Zee? Lo kabur gara-gara diikuti sama pengamen kecil itu?” Mala bertanya penasaran, sedikit meledek.
            “Ya abis gimana, kan gue ngeri”
***

            Namanya Putri, hari ini usianya tepat 8 tahun. Duduk dikelas 2 SD. Mengamen sejak masuk sekolah dasar. Sebenarnya sang ayah masih ada, penghasilannya pun bisa dibilang cukup. Entah mengapa sang ibu, menyuruhnya untuk mengamen. Mencari logam-logam kehidupan.
            “Mba Zee, aku kan ulangtahun” ucapnya sambil menghitung logam-logam yang ada ditasnya.
            “Oh ya?”
            “Iya mba, tapi nggak dirayakan” keluhnya.
            “Itu kan dapat uang banyak, Put” aku pura-pura mengintip tasnya.
            “Ini buat mama” ia memajukan bibirnya.
            “Loh kok? Nggak buat ayah?” aku penasaran.
            “Bapakku kan kerja mba, aku juga sering dikasih uang sama bapak”
            “Berapa?”
            “Sepuluh ribu, mba”
            “Hah?” jujur saja aku kaget sekali. Aku menelan ludah, nilai itu sama seperti dua kali uang jajanku pada saat duduk dikelas 3 SMK. “Kan udah banyak dikasih sama bapak. Kenapa masih ngamen?”
            “Disuruh mama”
            Ada sesak tak terkira saat anak kecil itu mengungkapkan sesuatu yang sangat diluar nalarku. Seharusnya gadis kecil itu takperlu mengamen. Uang jajannya sudah lebih dari cukup. Lalu mengapa sampai harus mengamen.
***
            Pagi itu aku melihat Putri bergandengan dengan anak kecil yang jika kutebak umurnya masih 4 tahun. Ia menggangdengnya penuh kasih. Sementara itu dibelakangnya ada seorang ibu dengan pakaian sangat indah dan balutan make up yang luar biasa menurutku, mengikuti dua gadis itu dari belakang.
            Kali ini yang menjadi pertanyaanku, siapakah ibu yang berada dibelakang dua gadis itu? Kalaupun hanya kebetulan melalui jalan yang sama mengapa gadis kecil  yang digandeng tangannya oleh Putri berkali-kali pula merajuk kearah ibu itu? Apa mungkin itu ibunya? Kenapa terlihat cantik sekali. Namun, belum saatnya aku menemukan jawaban.
            Aku hanya mengamati dari jauh, setelah mengamen dua gadis itu memberikan seluruh isi tasnya pada ibu itu. Aku menunggu ibu itu pergi lalu aku akan bebas mengintrogasi dua bocah itu.
            “PUTRI” aku berteriak memanggil.
            Ia menoleh, lalu menghampiriku.
            “Ada apa mba?” ia mendatangiku dengan riang.
            “Tadi siapa?”
            “Mama”
            Allahu Rabbi... ada sungai mengalir tepat dikedua mataku. Aku memeluknya ringan. Menatapnya lembut, mereka hanya diam.
            Allahu Rabbi, mengapa harus seperti ini? Apakah ini bagian atas pelajaran bagaimana mensyukuri nikmat-Mu? Agar tidak serakah dan memantaskan diri dihadapanMu? Apakah ini bagian dari segala rasa syukurku yang masih terbatas.
            Allahu Rabbi, apakah ini bagian dari cara anak berbakti pada ibunya? Apakah benar yang dilakukan sang ibu, menyuruh anaknya meminta pada orang lain? Padahal dalam kitab suci, sudah jelas. Tangan diatas lebih baik dari tangan dibawah.
            “Mba Zee, kenapa nangis?” Putri heran sendiri.
            “Kenapa kamu mau disuruh mama mengamen?”
            “Putri sayang sama ibu, Putri mau disuruh apa aja” aku mempererat pelukanku.
            “Terus uangnya sama ibu dipakai buat apa?”
            “Buat beli baju baru dan bedak mba” ia menahan getar suaranya.
            “Putri cuma mau ibu bahagia” lanjutnya lagi;
            Allahu Rabbi, begitu tulus hati dua bocah ini. Sampai mereka tak sadar bahwa kali ini mereka sedang dimanfaatkan. Dikuras tenaganya. Salju itu semakin mencair, membanjiri hatiku.

Fajar Afika

29122013

Jumat, 20 Juni 2014

Kode

Selamat senja, masih dalam perjalanan penuh perjuangan. Saat dimana kesabaran dipertaruhkan dan keegoisan dipertanyakan. Aku lelaaaaaaah.. help! Oke baikah kita cukupkan keluhan hari ini.

 Kau lihat, hujan masih turun. Kita bisa menari dibawahnya dan kau bisa mengambil beberapa tetesnya untuk membasahi wajahmu, menghapus penat. Barangkali itu sangat menghibur. Syalaallaaa...

Hati yang terluka jauh lebih sensitif, itu sudah pasti. Tolong deh jangan sampai taring harimau keluar dari mulut buaya. Jangan biarkan cakarku kembali melukai hatimu.
Aku tak lain hanyalah wanita biasa, bisa saja melukaimu dengan kata. Tak jarang kode-kode simpel itu menyakiti perasaan siapapun.

Aku hanya bisa sedikit mengalah untuk menunjukkan bahwa aku tak suka, aku tak sudi dengan kelakuanmu padaku. Aku ingin kau menangkap kode yang aku kirim, ternyata tidak. aku ingin kau menangkap kode itu lalu kau mengerti. Aku tak suka kau mengambil tempat ternyamanku.

Meluruskan yang bengkok

Setiap kita pasti pernah berada diantara masalah orang lain, serta tak jarang kita ingin sekali ikut campur dalam masalah itu, merasa paling benar dan paling tahu.Seolah kita hadir sebagai pahlawan. Dengan semua sikap sok tahu kita dan sikap kita yangi kita paling benar mengganggap diri kita paling benar.

Kadang sikap kita yang sok tahu itu membuat masalah menjadi tambah panjang. Singkat saja, tujuannya meluruskan yang bengkok, ternyata malah patah. 

Bagaimana seharusnya kita bersikap? Kita tak lain hanyalah penonton, kita hanya berhak melihat. Kecuali artis didalamnya meminta bantuan kita. Kita jangan terlalu banyak ikut campur urusan orang lain. Diamlah sejenak, perhatikan lalu komentari (jika diperlukan).

Rabu, 11 Juni 2014

Mentari Senja



Sore itu, kau tiba-tiba hadir dihadapanku. menyembunyikan sesuatu dibalik tanganmu. Kau menatapku erat sekali. Sesekali kau menyeka ujung matamu. Lalu kemudian kau mengambil tanganku. Menenggelamkan aku dalam pelukanmu, sekejap. Lalu tangismu pun pecah.

Aku semakin tak kuasa, aku mencoba melepaskan pelukan itu. Namun gagal. Kau semakin erat dan tangismu semakin keras. Sejam berlalu dengan posisi yang sama. Jam berikutnya, kau mulai bicara patah-patah, "Maaf" berkali-kali kau ucapkan kata-kata itu. Tanganmu masih menyembunyikan sesuatu.

Aku menggenggam erat tanganmu, "Ada apa?" aku bertanya khawatir. Namun kau tetap bisu. Lalu aku menunggumu bicara. Tetap tersenyum. Tak lama kemudian kau menyodorkan selembar kertas cantik berwarna merah, tertulis namamu dan namanya, juga tertulis tempat dan tanggal resepsi pernikahan. Aku tersenyum getir, mencoba menahan cemburu, tapi gagal.

Kini, aku yang tak henti menangis. Kau memelukku lagi, tapi terpaksa aku tolak. "Kau jahat" aku hanya bisa berteriak satu kalimat itu. Berkali-kali.
"Aku tahu, aku salah. Aku minta maaf" kali ini kau berlutut dihadapanku.
Kau menyisir rambutku, biarkan aku bersamamu setidaknya sampai hari pernikahan itu.

"Tidakkah kau bahagia melihatku melangkah lebih cepat?" ia menatapku tajam.
Aku diam membisu.
"Kau harus jawab, apa harus aku meninggalkannya untukmu"
Lalu semua diam membisu.


***

Aku menggenggam undangan itu berkali-kali. Meremasnya hingga tak terlihat bentuk aslinya. Kemudian aku luruskan kembali. "Kamu jahat" berkali-kali aku mengungkapkan kalimat itu, menenggelamkan dalam tangisku. Besok hari pernikahanmu.

Seluruh kenangan seolah berlari-lari meminta untuk dijemput. Kau dengan pasanganmu sedang bersiap-siap menantikan saat bahagia. Sementara aku menantimu diujung penantian. Aku meraih ponselku, mencari namamu.
"Halo" suaraku bergetar.
"Kamu kenapa?" suaramu terdengar khawatir. 
"Gimana persiapannya?" aku menahan air mata yang siap membanjiri.
"Semuanya baik, kamu baik kan?" ia terdengar ragu.
"Besok kita ketemu ya sebelum kamu nikah" ajakku
"Sekarang aku ke rumah kamu aja. Kita makan malam diluar" percakapan berakhir.

Aku bersiap-siap mengenakan pakaian terbaik. Merias wajah secantik mungkin, mengenakan parfum terbaik dan merapalkan beberapa doa. Tak lama, kau datang membawa bunga mawar kuning, kau bilang simbol persahabatan.

Akhirnya kita pergi ke sebuah taman, menikmati malam sambil menikmati bintang.
"Mau makan apa?" kau bertanya basa-basi, padahal kau tahu apa saja yang aku suka.
Kali itu aku menggeleng. Aku tak ingin makan apapun. Hanya ingin bersamamu.

"Sebenarnya sejak kapan kau merencanakan pernikahanmu itu?" aku bertanya galak.
"Semuanya tanpa rencana. Mengalir begitu saja, aku yakin sekali dengan pilihanku ini." Wajahmu tersenyum saat mengucapkan kata-kata itu.
"Bahkan kau lupa janji kita berdua?" aku menatapnya serius, kau hanya menunduk.
"Kau lupa kita pernah punya janji suci? Kau lupa itu? hah!" aku berteriak dihadapanmu.

Kita sama-sama memandang bintang, saling bertatap ringan. Kemudian saling  tersenyum. Hampir tengah malam, dan kita belum kembali ke rumah. Menenangkan hatiku berkali-kali. Beberapa saat kita tertawa, namun saat kembali ingat kau akan menikah besok, aku kembali menangis. Semuanya berulang sampai pukul tiga dinihari.

Akhirnya malam itu kau tertidur dipangkuanku, dibangku taman. Tempat dimana kita mengucap janji suci beberapa tahun silam. Aku tak bermaksud menggagalkan rencana pernikahanmu, hanya saja aku ingin bersamamu semalam saja.

Aku membangunkanmu, memintamu mengantarku pulang. Kau menuruti apapun yang aku minta malam itu. Lalu kita sama-sama tertidur dirumahku.
Pagi harinya, keluargamu panik mencarimu. Mereka menghubungiku berkali-kali, memintamu pulang.
Pukul enam kau pulang, bersiap untuk pernikahanmu. Saat itu kau bilang, "Kamu ga perlu datang ya, istirahat dirumah" aku mengangguk. Dusta.

Pukul delapan, saat kau siap berangkat menuju tempat calon istrimu. Aku berdiri didepan rumahmu, kau panik sekali saat itu. Keluargamu apalagi, kakakmu berkali-kali menguatkanku. Berkali-kali bilang kita akan tetap menjadi sahabat.

Tangisku semakin deras saat berada dikediaman mempelai perempuan, akhirnya aku ikut mendampingimu. Duduk manis disebelah kananmu.
Penghulu mengambil tanganmu, bersalaman.
Aku menangis lagi, kau melepaskan genggam tangan sang penghulu, membelai wajahku lembut. Mencium tanganku seakan memohon restu.
Aku menatapmu kuat, menangis lagi. Semua berlalu lebih dari satu jam.
Kau menatap calon istrimu dalam-dalam, ia membalas dengan senyuman. Kembali ke kamarnya.

Kau menggenggam tanganku. Kemudian tangan sang penghulu. Merapalkan beberapa kalimat.
Lalu kita pulang.



5 Tahun Pernikahan : Anak bukan Alasan Tunggal Kami Bahagia

Pernikahan yang terjadi di sekeliling saya secara tersirat banyak yang tujuan utamanya adalah memiliki anak. Setidaknya bagi saya hal itu di...