Senin, 21 Juli 2014

Senyuman di balik Senja


 “Bangun, Nak. Udah hampir imsak” teriak Ibu dari dapur.
       Aku masih mengerjapkan mata. “Iya sebentar” jawabku singkat. Namun kemudian aku kembali bersembunyi dibalik selimut.
            Tak lama kemudian, suara petasan saling bersautan. Bahkan kilauan api seakan menyala di atas kamarku, mengganggu.  “Ahhh, berisik banget” gerutuku kala itu.
Aku meloncat dari tempat tidur, melihat jam disebelah kiriku. Kemudian berlari ke ruang makan. Tanpa aku hiraukan ponsel yang terus berdering.
            “Ada makanan apa untuk sahur kali ini, Bu?” tanyaku sambil mengambil piring di pojok dapur.
            “Cuci muka dulu baru makan, kebiasaan” Ibu mengambil piring yang tengah aku pegang. Lalu aku bergegas mencuci muka. Ayah dan adikku sudah sahur dan kini adikku kembali tertidur. Ayah masih duduk di meja  makan.
            “15 menit lagi imsak loh, makanya kalau dibangunin tuh bangun. Jangan tidur lagi” ucap Ayah sambil merapikan piring bekas makan. “Eh, tadi Jerman menang loh 0-5 atas Brazil.” Ucap Ayah sambil mengedipkan matanya.
            Mataku membulat, “Wah, iya belum selesai pertandingannya.”  Aku membawa piring yang berisi nasi ke kamar, sambil menonton pertandingan semifinal Piala Dunia.
            “Makannya cepat, Nak. Udah mau imsak” lagi-lagi Ibu berteriak.
            Aku makan dengan cepat. Pertandingan hampir selesai, lagi-lagi tim Jerman memasukkan bola kembali ke gawang lawan. Pendukung Brazil mulai menekuk wajahnya, air mata mulai mengalir diwajah-wajah penuh harap itu. Sementara itu aku mulai tersenyum manis, kemudian meraih ponsel.
            Wah, Jerman menang nih, El. Besok ifthor jama’i nih kayaknya.
    

        Aku mengirimkan pesan singkat pada sahabatku yang juga mendukung Jerman dalam laga piala dunia kali ini. Aku pun sibuk di grup BBM tempatku bekerja. Beramai-ramai dengan beberapa teman yang lain meledek teman yang tim kesukaannya kalah dalam laga tersebut. Komentar saling bermunculan, saling ejek bahkan saling menjatuhkan. Piala dunia turut mewarnai suka cita Ramadhan kali ini. 1-7 Jerman menang atas tuan rumah.
            Message Receive
          From : El
            Besok lu kesini, kita nyoblos. Milih presiden, ada yang lebih penting daripada kemenangan Jerman. You know what i mean :D
            Aku menepuk dahiku, ahh.. hampir lupa pagi ini ada pesta demokrasi lima tahunan di Negeri ini. Aku tak siap dengan pemerintah yang baru. Banyak fakta-fakta yang menjatuhkan satu calon presiden dengan calon lainnya.
            Meski aku tak siap, aku harus tetap memilih. Ini untuk masa depanku dan bangsa ini. Mengingat aku hidup dipemerintahan sebelumnya selama sepuluh tahun, berat rasanya jika ditinggalkan oleh pemimpin ini. Presiden yang aku tahu bijaksana dan di masa kepemimpinannya aku berjuang hebat untuk hidupku. Maka bisa dikatakan, ialah saksi kehidupanku saat ini.
            Apalagi beredar isu menyeramkan tentang dua calon pemerintah kali ini. Satu sosok dianggap mempunyai masa lalu yang menyeramkan sementara yang satunya didukung oleh orang-orang dengan visi misi menyeramkan. We know what i mean.
            Message Sent
          To : El
            Ahhhh, gue mau golput aja. Bingung L
.
            Message Received
          From : El
            Golput sama aja membiakan pemimpin dzalim memimpin negeri ini.  Udah si kesini cepetan
            Sahabatku yang satu itu suka sekali memaksa. Baiklah aku bergegas mengenakan gamis abu-abu dengan pasmina warna senada. Tak lupa aku turut mengajak ayah dan adikku.
            Semua akan jauh lebih menyeramkan jika aku tidak menggunakan hak suaraku. Satu suara menentukan masa depan bangsa. Setidaknya, aku bisa memilih yang sedikit kekurangannya dan memiliki pendukung yang luar biasa
Riuhnya suasana di Tempat Pemilihan Suara membuatku menerka siapakah yang berhasil merebut suara rakyat dalam pesta demokrasi kali ini. Saling beradu argumen siapakah yang terbaik, ah bodo amat. Aku lelah dengan segala janji palsu mereka. Siapapun pemimpinnya, harus ada perubahan yang lebih baik.
            Pemilu turut menghiasi warna Ramadhan yang penuh berkah.
***
Allahu Akbar...Allahu Akbar... Allahu Akbar.
Dentuman suara yang lebih dahsyat dari petasan terdengar menggelegar, hei ini suara roket bukan petasan. Apinya jauh lebih panas dan luka bakarnya juga lebih dahsyat jika terkena tubuh. Bahkan asapnya bisa menghitamkan langit dalam radius beberapa kilometer.
“Allahu Akbar, Allahu Akbar” teriak seorang bocah dengan luka dibagian kepala dan kakinya, Ahmad. Bocah berusia sebelas yang berlari mengetahui kedatangan roket, seolah menantang kematian.
Jalur Gaza, tempat dimana konflik sedang berkecambuk. Asap hitam memenuhi langit kota itu, tanpa ampun Israel terus menggencarkan serangan untuk melumpuhkan Palestina, mereka ingin menguasai tempat suci berdirinya Masjid Al-Aqsha. Bumi Syam. Gaza terus di gempur rudal-rudal yang membuat seluruh penduduk panik bukan main.
“Pergi dari situ Ahmad” teriak seorang laki-laki paruh baya, Abdullah. Namun Ahmad kecil tak bergeming, ia tetap berada didepan rumahnya. Menunggu ibunda tercinta.
Laki-laki yang sedari tadi memanggil-manggil akhirnya tak sabar, ia berlari menghampiri Ahmad kecil, kemudian mengajaknya bersembunyi dibalik batu-batu bekas reruntuhan rumah. Tempat yang dianggap lebih aman.
“Kenapa kau bawa  aku berlari, aku menunggu ibuku pulang. Kembalikan aku kesana” Ahmad kecil meronta-ronta digendongan lelaki setangah baya itu. Sia-sia, lelaki itu tetap membawa Ahmad berlari menghindari rudal berikutnya. Lelaki itu hanya menggeleng mendengar permintaan sang bocah.
            “Aku ingin bertemu ibuku” lagi-lagi si kecil berteriak.
“Hai, dengarkan pamanmu ini. Iya nanti kau akan bertemu ibumu, tapi nanti saat waktunya sudah tepat” Abdullah menenangkan hati bocah yang tengah merindukan ibunya.
“Paman, sejak kemarin ibuku tak kunjung kembali ke rumah. Aku ingin mencarinya. Aku ingin tau apa yang terjadi pada ibuku” ia mengemukakan keinginannya.
Abdullah menyeka wajahnya. “Bumi Allah ini luas, Ahmad. Kau harus percaya Allah pasti menjaga ibumu”
Semua orang berlari menuju tempat yang lebih aman. Termasuk didalamnya seorang anak lelaki kecil bersama beberapa orang dewasa ikut berlari.
            “Itu Umar, adikku” teriak bocah kecil itu histeris. Tangannya seolah meraih tangan adiknya.
            Anak kecil bernama Umar itu, berkali-kali terjatuh saat berlari  menyelamatkan diri. Namun ia tak gentar, ia kemudian bangkit menuju kakaknya. Badan mungilnya seperti tertutup tubuh orang dewasa lainnya. Kini wajahnya tak tampak dalam pandangan Ahmad, seketika semuanya gelap.

***
            Di negeri ini, rakyat disibukkan dengan pemilihan presiden terbaru. Dengan harapan memiliki pemimpin yang lebih baik. Pemimpin yang mendukung berbagai gerakan perubahan, yang tidak mengesampingkan norma agama.
            Sementara dibelahan bumi lain, sedang diadakan semarak piala dunia. Ini sekadar hiburan ditengah berbagai persoalan yang menguras perasaan.
            Lihatlah, mungkin rasa syukurku masih kalah jauh dengan saudara-saudaraku di Jalur Gaza. Mereka bukan hanya berjuang menahan lapar dan dahaga saat Ramadhan kali ini. Mereka, berjuang mempertahankan Islam diatas negeri yang terjajah. Sementara aku, masih berjuang dalam perjalanan menuju perubahan yang lebih baik. Aku masih mengeluh mendengar suara petasan, aku masih mengeluh dengan makanan yang terhidang didapur.
            Inilah sepenggal kisah perjuangan dalam Ramadhan kali ini. Ketika aku berjuang melawan segala kemalasan, menentukan target hidup yang harus segera dicapai dan berjuang meraih semua mimpi yang masih terpending
Allah... dipenghujung senja izinkan aku tetap bersyukur atas nikmat yang tak terkira. Inilah warna Ramadhan tahun ini, Ramadhan yang penuh kejutan.
***

Sabtu, 19 Juli 2014

Dakwah yang Menyenangkan

         
Berdakwah itu tidak selalu mudah. Seringkali ada cercaan dan makian datang silih berganti. Diperlukan hati yang lapang untuk menerima berbagai reaksi negatif. Sebenarnya ada cara yang cukup ampuh untuk berdakwah. Daaaan, tidak sulit tanpa harus cuap-cuap memberitahu dalil tentang amalan.
            Kali ini tentang jilbab. Sungguh miris sekali ketika melihat penampilan muslimah berjilbab saat ini, banyak sekali yang tidak sesuai aturan. Misalnya menggunakan jilbab mini atau transparan yang tentu sesuai syariat Islam. Dari situ, kami memikirkan cara yang mudah untuk menyampaikan tanpa menyinggung.
            Mulai dari ide berdakwah, kami memutuskan untuk membuat film bertema “Hijrah”. Kenapa malah hijrah bukannya hijab? Karena menurut definisi kami, hijrah itu bergerak. Kami sendiripun masih dalam proses hijrah maka kami mengangkat tema itu. Menurut kami, hijab itu masuk ke dalam proses hijrah.
            Sekitar pertengahan April 2014 kami dari kelas ILIFAT YISC Al-Azhar Angkatan Januari 2014 (Angkatan Al-Fatih)  mengusung ide untuk menggarap Film pendek bertema hijrah, dimana film tersebut menceritakan tentang perjuangan hijrah seorang gadis dan perjuangan dakwah gadis lain. Penulis Skenario ini Resty Puji Octaviani dibantu oleh Teti Srikurniawati. Di film ini kami hanya menggunakan tiga tokoh, satu pemeran utama dan dua pemeran pendukung. Dimana Teti Srikurniawati sebagai pemeran utama. Irene Rahmadinda dan Lobelia Asmaul Husna sebagai pemeran pendukung. Sementara kameramen dan editornya adalah Ibnu Bagus Jati Anggoro dibantu oleh Ginanjar Akbar Wicaksono dan Muhammad Farid serta Jeanitha Tiara sebagai seksi sibuk (hihihi :D)
            Tepat pukul 08:00 WIB kami memutuskan untuk berkumpul di Kompleks Masjid Agung Al-Azhar, Kebayoran Baru. Ibnu dan Akbar dengan semangat luar biasanya membawa kamera dari rumah. Resty datang paling pertama sambil mengedit skenario (lagi), kali ini dibantu oleh Ibnu. Nah, bicara skenario... ini bukan naskah yang jadi dalam sekejap, perlu editing berkali-kali dan beberapa orang untuk menjadikan naskah ini luar biasa.
            Film ini menceritakan tentang perjuangan Zee menggunakan jilbab syari. Dimana saat itu ia berteman dengan Vinna, seorang gadis yang cukup supel. Ia mengenal siapapun, termasuk Winda. Winda sendiri adalah seorang kakak tingkat yang sangat baik, ia tak pernah terlihat berwajah masam serta lembut sekali (siapapun pasti suka).
            Sebenarnya, Zee sudah lama ingin berkenalan dengan Winda, tapi Zee pemalu dan tidak berani berkenalan. Maka Vinna yang mengenalkan mereka berdua. Seiring berjalannya waktu, Zee dan Winda berteman akrab. Saat itu Zee masih menggunakan jilbab yang transparan, hingga akhirnya Winda memberikan jilbab syari.
            Keesokan harinya, saat Zee menggunakan jilbab yang diberikan Winda. Saat dimana Zee ingin menunjukkan pada Winda bahwa ia sudah berjilbab Syari. Datanglah kabar buruk, Winda meninggal dunia. Sejak saat itu, Zee memutuskan berjilbab syari.

            Jauh langkah
                        Tanpa Arah
                        Terjun dalam duka
                        Bergulir atas puja-puji nista
                        Terbawa arus hingga samudera
                        Hingga...
                        Ambil kaca, sadar tak lagi muda
                        Ada jiwa pinta surga
                        Henti dosa, raih Jannah



            Film ini memberikan pesan bahwa, dakwah tak selalu harus menggurui. Dakwah bisa sangat menyenangkan “Show dont Tell”. Dan berdakwah bisa kapan saja. Dakwah tak mengenal waktu, tak mengenal usia. Berdakwahlah selagi bisa.

            Inilah persembahan ILIFAT  untuk Umat.

Semoga kami bisa membuat rangkaian film-film pendek yang terus menginspirasi. 

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...