Rabu, 10 September 2014

Serunya Kelas Inspirasi Bogor 2



“Luaaaar biasa…” Hari ini berkali-kali mengucapkan kata ini. Tak lupa diiringi dengan kalimat indah  lainnya. “Masyaa Allah, nggak tau lagi mau ngomong gimana. Pokoknya Istimewa deh”
Ini pertama kalinya saya mengikuti Kelas Inspirasi, yaa tepatnya di Kelas Inspirasi Bogor 2. Kebetulan saya masuk di kelompok 25 dan ‘bertugas’ di SDN Cemplang, Bogor Barat.
Sekolahnya rapi sekali tidak terlihat sampah berserakan dimana-mana (kecuali pasca closing ceremony, hehe :D ). Bukan hanya lingkungan sekolah yang indah tapi ditambah sambutan hangat dari Kepala Sekolah, Dewan Guru dan jajaran kabinet di sekolah itu. Rasanya jadi betah disana #loh?
Namanya pengalaman pertama pasti unik sekali, pertama karena saya tinggal di Bekasi dan bekerja di daerah (hampir) Purwakarta tapi saya memilih ikut Kelas Inspirasi Bogor. Kedua karena saya salah memperkirakan waktu keberangkatan dan jam pertama mengajar. Padahal saya berangkat tepat setelah sholat Subuh loh, Alhamdulillah sampai lokasi pukul 08:30 WIB. Ketiga, ini pertama kalinya saya mengajar SD dan muridnya sebanyak itu, maklum beberapa kali hanya private. Keempat, saya bingung karena biasa memegang material dan saya sebagai Quality Control Sektor Kimia. Sempat bingung mau mengenalkan profesi saya pakai cara apa. Untungnya, profesi saya bukan hanya satu jadi bisa di gabungkan. Kan hal terpenting buat saya, saya bisa memberikan inspirasi untuk anak-anak SD. Sesuai motto kelas inspirasi itu sendiri, membangun mimpi anak Indonesia.
Ternyata, kabar baiknya adalah ketika sampai saya harus masuk ke kelas untuk mengajar. Allah Maha Baik, dan Fasilitator saya juga baik sekali. Beberapa kali saya harus mengabarkan mas Prada (fasilitator kelompok 25) tentang lokasi saya. “Mas, aku baru sini” “Mas estimasi biaya dari stasiun sampai SD Cemplang berapa?” “mas maaf aku telat nggak bisa ikut opening” dann segala pertanyaan konyol saya lainnya. Alhamdulillah Mas Prada sabar yaa, semua pertanyaan saya dijawab sejelas-jelasnya.
Sampai lokasi pukul 08:30 WIB langsung disambut senyuman mas Prada, dan saat itu mas Prada langsung lari ke ruang kelas, entah apa yang dia lakukan (hihi). Tak lupa menemui Ibu Kepala Sekolah SDN Cemplang, Ibu Lili Mardiah. Dan beberapa dewan guru. Setelah itu ngobrol sebentar lalu salim plus cipika cipiki ala wanita.
Ternyata usut punya usut, tadinya kakak ganteng mau menggantikan saya mengajar di kelas enam. Tapi karena saya sudah datangmaka kembali ke jadwal. Nah, mungkin itu yang membuat mas Prada berlari-lari pasca melihat saya.
Langsung deh mulai mengajar. Beruntungnya, kelas pertama yang saya datangi adalah kelas enam. Kelas paling tua. Disini unik sekali karena semuanya tenang mengikuti pelajaran yang saya sampaikan.Mungkin ‘salahnya’ adalah sayakeukeuh mengenakan pakaian syari saya. Jadi anak-anak selalu mengira bahwa saya guru mengaji (kebetulan memang itu termasuk dari salah satu pekerjaan saya). Dengan senang hati saya pun meng-iya-kan. Tentu saja, dengan saya menjelaskan kepada mereka apa profesi utama saya. Menceritakan siapa saya dan beberapa tips sukses yang selama ini saya jalani. Tentunya berdasarkan AL-Quran dan Sunnah serta hasil belajar selama ini. Saya sempat membacakan beberapa ayat Al-Quran dan mereka antusias.
Bahagianya, saya mendapat jatah empat kelas sekaligus yang waktunya berlanjut, setelah mengajar kelas enam yang cukup damai. Saya harus mengajar di kelas tiga yang cukup luar biasa. Tapi tetap menyenangkan. Bahkan beberapa anak sangat antusias dengan apa yang saya sampaikan.
Dan sebetulnya saya merasa bahwa dikelas tiga ini saya lebih banyak mengajak bermain dan ‘mendamaikan’ mereka yang bercanda keterlaluan versi anak-anak SD. Apapun yang terjadi dikelas saya menikmati. Alhamdulillah.
Ternyata Allah benar-benar baik ya, setelah kesulitan ada kemudahan. Yap, setelah kelas tiga saya beralih ke kelas lima. Ketika mengajar di kelas ini rasanya nikmat sekali. Semuanya tenang sekali. Menyimak dengan baik.
Tibalah bagian terakhir saya, tepat hampir tengah hari dan dilengkapi rasa lelah yang bertambah-tambah. Dengan suka cita saya masuk ke kelas empat. Lagi-lagi saya beruntung karena dalam keadaan lelah dan sepertinya mereka jenuh, saya harus menenangkan mereka berkali-kali. Luar biasa. Dikelas terakhir saya hanya sempat mengenalkan diri saya dan tips sukses ala saya. Hal yang membuat saya bahagia adalah ketika mereka dengan inisiatifnya menggemakan shalawat nabi. Tanpa komando dari siapun mereka melafalkan itu berkali-kali. Dan ada juga yang dengan sukarela menyetorkan hapalan Al-Qur’annya. Dikelas ini saya dianggap guru ngaji betulan :’)
            Yaaaa… dan akhirnya ditengah hari yang cukup panas untuk daerah Bogor, closing ceremony pun di gelar. Anak-anak SD itu masih dengan ghirohyang luar biasa mengikuti arahan dari dewan guru dan beberapa rekan kelas inspirasi (kebetulan saya sibuk sholat dzuhur sendirian, maafkan yaaa). Anak-anak SD akhirnya mengisi pohon cita-cita mereka. Dilanjutkan dengan prosesi yang lain. Acara pun selesai. Alhamdulillah.
 Setelah saya renungi, ternyata bukan mereka yang belajar dari saya tapi saya yang belajar dari anak-anak SD itu. Saya belajar untuk selalu ceria dan selalu membuat saya ingin tahu banyak hal.
            Terimakasih kepada Allah yang telah memberikan ‘kode-kode’ hingga akhirnya saya berani mendaftarkan diri sebagai relawan inspirasi Bogor. Terimakasih kepada panitia Kelas Inspirasi Bogor yang rela menerima saya sebagai relawan dengan segala kelebihan yang Allah berikan dan kekurangan yang sebenarnya tak saya kembangkan menjadi kelebihan.
            Terimakasih untuk Kelompok 25 yang bersedia menutupi segala hal yang kurang pada diri saya. Sekali lagi terimakasih kepada Allah karena saya satu kelompok dengan salah satu laki-laki ganteng yang pada akhir kelas inspirasi siang tadi menjadi bahan rebutan anak-anak SD. Wkwk :D
            Terimakasih mas Adi Mulia Pradana selaku fasilitator kelompok 25 yang banyak memberikan support untuk saya khususnya dengan segala kesabaran. Dan terimakasih untuk seluruh tim saya, mas Stefanus Eko Andriyanto dan  mas Filipus Aron Mamuji makasih karena pernah traktir saya makan bareng ketika pulang pasca briefing, kak Veronica Dewi makasih luar biasa untuk keramahannya, kak Anggi Presti Adina yang nggak kalah oke ramah juga, mas Riza Kamal Shadiq makasih karena diizinkan menumpang di mobilnya (untung nggak disuruh duduk di bak belakang :p ), mba Ambar Prakoso makasih sudah menemani aku mencari oleh-oleh dari Bogor ohh iya mba makasih yaa traktirannya, mas Ayudha Nandi Pradipta, makasih karena mampu membuat saya tertawa berkali-kali. Dan spesial buat kak Giri Lantria Utari yang rela mengabadikan keseruan kelas Inspirasi dan belakangan juga menjadi idola anak-anak (karena anak-anak minta di foto. Wkwkw :D) dan terimakasih juga karena sudah mengambil beberapa gambar saya yang mudah-mudahan bagus dan tak salah ekspresi. Intinya terimakasih untuk segala kebaikan dan ilmunya, semoga bisa berjumpa dikemudian hari.
            Terimakasih telah menjadi bagian dari saya, bagian dari ‘keluarga’ yang memiliki satu visi. Semangat terus untuk membangun mimpi anak Indonesia.

Senin, 08 September 2014

Ayah, aku ingin kau cemburu


Ayah, masihkah ayah ingat bahwa 17 tahun yang lalu dengan sabar ayah mengajariku tentang agama? Mengajariku membaca a ba ta tsa.. dan seterusnya?
Sungguh ayah , aku rindu saat-saat itu. Saat dengan sabarnya engkau memberikan pemahaman Al-Quran sedikit demi sedikit dalam memoriku yang masih sangat luas.
Harusnya kali ini kita mengkajinya bersama ya. Bukan aku sibuk dengan dunia luarku. Harusnya kita saling bercerita tentang Siroh Nabawi ya yah, setelah dulu kita sempat bercerita singkat tentang 25 Nabi.
Ayah, masihkah ayah ingat ketika ayah lelah setelah bekerja seharian, ayah mendatangiku lalu membacakan beberapa cerita? Terkadang mengajariku membaca.
Apakah kali ini harus aku yang membacakan karya-karyaku? Atau tumpukan buku yang sering aku beli. Lalu kita berbagi ilmu.
Ayah, masihkah ayah ingat saat bertahun - tahun lalu saat aku masih dibangku taman kanak-kanak aku tak pernah lupa memasukkan sepatu kerjamu ke dalam rak sepatu?
Sekarang, ayah yang sering membereskan sepatuku. Bahkan tas kerja dan seragamku. Ayah bilang, “Kamu istirahat saja,” Aku malu ayah, aku malu. Aku malu karena sering pulang hampir tengah malam, dan ayah masih bersedia menjemputku.
Ayah, masihkah ayah ingatkah saat pertama kali ayah memberikan sebuah buku? Dan saat itu ayah bilang, ‘tulis apa saja yang kamu rasakan, tapi ada baiknya ceritakan saja pada ayah”
Dulu aku memilih bercerita, tapi sekarang aku lebih memilih kertas-kertas itu atau gadget yang tersedia. Lalu menuangkannya di sana.
Ayah, masihkah ayah ingat saat aku merengek meminta boneka barbie lengkap dengan bajunya? Dan ayah hanya membelikan bajunya karena ayah bilang bonekanya sudah banyak (waktu itu aku punya 6 boneka barbie).
Sampai sekarang, ayah masih sering membelikan apapun yang aku butuhkan.  Tapi agaknya beberapa teman laki-lakiku sudah memberikan beberapa barang yang aku butuhkan. Sehingga ayah tak perlu memberikannya lagi.
Padahal aku bisa membaca matamu, yah. Aku tahu ayah masih ingin aku repotkan.
Ayah, masihkan ayah ingat saat pertama kali aku masuk SD? Aku masih lucu kan?
Ayah, masihkah ayah ingat saat aku daftar di SMP Negeri terkenal di kota ini? Saat itu aku lupa membawa salah satu berkas dan ayah dengan lapang kembali ke rumah hanya untuk mengambil selembar kertas. Padahal jarak dari sekolah itu sampai ke rumah hampir satu jam.
Sekarang aku jarang sekali mengorbankan waktuku untukmu. Maafkan anakmu yang cantik ini ya yah.
Ayah, ingatkah saat akhirnya aku memilih untuk mendaftar di sebuah SMP Islam swasta yang saat itu kondisinya jauh dari yang kita bayangkan. Dan ketika aku masuk sana, aku menangis sepanjang hari sampai kelulusan?
Ayah pasti tahu betul, saat itu aku menangis karena aku merasa aku gagal membahagiakanmu. Tapi ayah  bilang, “kebahagiaan ayah tak berhenti hanya karena kamu tidak di terima di SMP Negeri. Dan apa yang ayah bilang itu benar sekali. Di SMP yang jauh dari kita bayangkan, ternyata disanalah aku temukan jati diriku. Aku temukan keberanian luar biasa.
Ayah. ingatkah ayah saat aku berinisiatif mendaftar di SMK Negeri yang cukup terkenal di kota ini juga? Aku dengan nekad berangkat sendiri. Padahal ayah bilang, “Nggak usah kesana, sekolah yang dekat saja”
Maafkan karena ternyata aku pergi kesana dan akhirnya aku sekolah disana, Luar biasanya ayah ikut mendukung seluruh kegiatanku yang super sibuk saat itu.
Ayah, aku masih ingat saat ayah menungguku berjam-jam di gerbang sekolah. Ayah dengan sabar menungguku.
Beberapa saat lalu, teman laki-lakiku sibuk mengantar jemputku. Dan ayah hanya tersenyum.
Ayah, masihkah kau ingat saat aku pulang hampir tengah malam karena aku bermain dengan teman-temanku? Lalu ayah dengan sabar menungguku di depan pintu rumah. Hari itu ayah tak memarahiku sama sekali. Bahkan ayah rela pergi keluar untuk membelikan makan malam untukku, padahal hari itu aku lihat ayah lelah sekali.
Kini…
Rasanya aku ingin mendengar bahwa ayah ingin bersamaku. Menghabiskan malam-malam penuh bintang bersama-sama. Saling diskusi tentang semua hal.
Aku ingin ayah marah karena aku jarang berada dirumah.
Dan…
aku ingin ayah ‘cemburu’ pada teman laki-laki yang terkadang  menyampaikan materi islam padaku.
Ayah, aku ingin kau cemburu.

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...