Senin, 23 November 2015

Jumat Berkah : Sedekah Batas Getar Bawah

Jumat Berkah merupakan kegiatan 'wajib' dari teman-teman dari PPALC (Pola Pertolongan Allah Learning Center) dari berbagai daerah. Ragam kegiatan Jumat Berkah juga bermacam-macam.

Jumat Berkah merupakan salah satu cara 'membeli' keinginan dengan 'amal'. 
Dalam prakteknya, Jumat Berkah berlangsung dengan niat yang di luaskan. (Ingat postingan saya sebelumnya yang berisi resensi buku Pola Pertolongan Allah)

Jumat Berkah itu merupakan  serangkaian sedekah batas getar bawah kita. Sedekah batas getar bawah adalah serangkaian dari poin-poin yang ada dalam PPA.

Konsep Jumat Berkah sendiri adalah mengharapkan Ridho Allah. Setiap pergerakan kita, sesederhana apapun, semisal membelikan nasi satu bungkus buat temen kita, itu terhitung Jumat Berkah.

Intinya, Jumat Berkah merupakan sa'i kita.
Bicara tentang sa'i. Tentu ingat kan ikhtiar Siti Hajar mendapatkan air. Beliau berlari sebanyak tujuh kali bolak-balik antara Safa dan Marwah. Kemudian air keluar dari kaki Nabi Ismail kecil.

Sebentar sebentar, kenapa Siti Hajar hanya berlari dari Safa ke Marwah lalu kembali lagi. Karena sesungguhnya ia bukan sedang mencari air. Tapi sedang menunjukkan ikhtiarnya kepada Allah agar Allah memberikannya air.

Hebatnya Allah, air itu masih ada sampai saat ini. Yaitu air zam-zam. Air yang tak pernah kering dan memberikan banyak manfaat.

Punya hajat apa pun, di Jumat Berkah harapan kita dituangkan. Sebelum bersedekah, ucapkan permohonan kita dulu.

Intinya kegiatan Jumat Berkah ini adalah bagaimana cara kita mensyukuri apa yg kita punya dengan berbagi ke orang lain.
Jika diselami lebih dalam lagi, Jumat Berkah bukan sekadar bertujuan agar hajat terpenuhi. Namun memiliki fungsi untuk mendekatkan kita kepada Allah.

Minggu, 22 November 2015

Resensi : Pola Pertolongan Allah

Judul Buku : Pola Pertolongan Allah
Penulis : Rezha Rendy
Penerbit : PPA Institute
Tahun Terbit : 2015
Hal : 368 halaman

***
Buku ini menjelaskan tentang poin-poin yang mengantarkan kita bagaimana meraih pertolongan Allah.
Dalam buku ini di jelaskan poin-poin, yang merupakan benang merah. Bagaimana akhirnya orang-orang hebat mendapatkan pertolongan Allah.

Bagi saya, hal yang paling penting adalah sebelum kita membaca buku ini. Kita diajak untuk 'ngobrol' dan 'minta ditemani oleh Allah'.
"Kita terlalu sering berbicara tentang-Nya tapi jarang berbicara dengan-Nya". -Rezha Rendy

Dalam buku ini kita diajak untuk paham dan sadar bahwa semua yang ada di dunia adalah milik Allah. Maka sudah sepatutnya kita hanya meminta kepada-Nya.

Buku ini juga menjelaskan bagaimana akhirnya orang-orang hebat mendapatkan miracle (keajaiban).
Bukan sembarang miracle, karena sesungguhnya miracle berada di balik dinding pemahaman.
"Yang bisa merasakan pahit manisnya kopi, ya yang minum" -Rezha Rendy

Disini juga di jelaskan, bahwa kita tak pernah bisa merubah apapun. Karena sudah banyak contohnya.
Nabi Ibrahim tidak dapat merubah Ayahnya.
Nabi Luth tidak bisa merubah istrinya.
Nabi Nuh tidak bisa merubah anaknya.
Nabi Muhammad tidak bisa merubah paman yang amat menyayanginya.
Hal tersebut termaktub dalam QS.Al-Qashash : 56.

Dalam buku PPA ini, ada lima poin yang dijelaskan untuk mendapatkan pertolongan Allah.
Salah satunya niat yang baik. Dalam salah satu poin PPA.
Niat yang baik merupakan niat yang diilhamkan. Bagaimana niatnya?
Yaitu niat yang kuat, lurus dan murni. Kuncinya luaskan.
Jadi kita harus punya niat yang kuat, benar-benar dari dalam hati kita. Niat yang baik bukan untuk pamer atau hal jelek lainnya. Kemudian di luaskan.
Misal minta mobil, contoh niatnya : "YaaAllah saya mau mobil dua. Yang satu buat nganter anak yatim jalan-jalan. Mudah yaaAllah buatmu ngasih hamba mobil" (Contoh niat yang luas).

Inti dari buku ini adalah tauhid. Yaitu mengesakan Allah dalan segala sesuatu. Percaya bahwa Allah pasti mengabulkan doa dan keinginan kita. Tapi bagaimana caranya hanya Allah yang tahu.

Bagi yang penasaran dengan isi buku ini. Segera dapatkan di PPALC di kota terdekat ya :)

Jumat, 13 November 2015

Penyakit Fisik dan Kejiwaan, Mana yang Parah?

Kita seringkali menganggap penyakit fisik lebih parah dari penyakit mental atau kejiwaan.
Bisa jadi iya.
Namun kenyataannya, penyakit mental lebih perlu pengawasan. Telat sedikit bisa bahaya.

Di negeri tercinta ini, masyarakat masih sangat aneh dengan penyakit mental. Padahal jika di telisik, pada penderita bipolar misalnya. Ada yang berbeda dengan sususan otak itu sendiri.
Atau pada penderita skizofrenia, halusinasinya bukan sembarang halusinasi.
Bisa jadi halusinasi tersebut sangat membahayakan.

Jika penyakit jantung ataupun kanker dan penyakit fisik lainnya. Perlu obat khusus yang tak biasa tentunya.
Sama, sama persis dengan penyakit mental. Skizofrenia
Minimal perlu konsumsi obat selama setahun untuk mengembalikan seperti semula. Ini untuk skizofrenia tingkat awal.
Bahkan ada yang harus minum obat seumur hidup.
Sakit kan?

Masyarakat kita sebetulnya masih sangat kurang peduli.
Kenapa? Penderita skizofrenia masih sering dibilang lebay. Kalau menurut saya lebay apanya coba. Sakit.

Sakitnya tuh disini, (sambil nunjuk dada). Udah sakit masih di "hina". Dan lebih sakit itu penderita skizofrenia sering di bilang orang gila.

Pada tingkat satu, penderita masih bisa beraktifitas dengan sedikit gangguan. Namun lama kelamaan bukan berarti tak semakin parah.
Lucunya, masyarakat kita sering menganggap remeh urusan penyakit kejiwaan.
Padahal bisa membahayakan untuk si penderita dan orang sekitarnya.

Siapa yang sebenarnya mau menderita seperti itu. Iya kalau masih bisa dilawan, kalau nggak :)

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman saya yang juga menderita bipolar. Dia mengeluhkan ketika ia berada di titik bawah moodnya jadi tak terkendali. Jika di tahap depresi keinginan bunuh diri meningkat tajam.

Berbeda dengan penderita bipolar skizofrenia yang sering menerima halusinasi dan perubahan mood yang luar biasa.
Dulu saya pernah bertemu dengan teman yang mengalami bipolar, moodnya dapat berubah lima menit sekali. Bayangkan bagaimana rasanya. Atau yang moodnya sediiih terus selama tiga bulan.

Saya sendiri merasa ngeri untuk membayangkan banyaknya obat yang harus di konsumsi. Beratnya terapi dan melawan kuatnya halusinasi.

Kita tak perlu menganggap remeh penyakit apapun. Sebab tak ada yang mau menderita sakit.
Mari lebih peduli terhadap sesama.

5 Tahun Pernikahan : Anak bukan Alasan Tunggal Kami Bahagia

Pernikahan yang terjadi di sekeliling saya secara tersirat banyak yang tujuan utamanya adalah memiliki anak. Setidaknya bagi saya hal itu di...