Jumat, 13 November 2015

Penyakit Fisik dan Kejiwaan, Mana yang Parah?

Kita seringkali menganggap penyakit fisik lebih parah dari penyakit mental atau kejiwaan.
Bisa jadi iya.
Namun kenyataannya, penyakit mental lebih perlu pengawasan. Telat sedikit bisa bahaya.

Di negeri tercinta ini, masyarakat masih sangat aneh dengan penyakit mental. Padahal jika di telisik, pada penderita bipolar misalnya. Ada yang berbeda dengan sususan otak itu sendiri.
Atau pada penderita skizofrenia, halusinasinya bukan sembarang halusinasi.
Bisa jadi halusinasi tersebut sangat membahayakan.

Jika penyakit jantung ataupun kanker dan penyakit fisik lainnya. Perlu obat khusus yang tak biasa tentunya.
Sama, sama persis dengan penyakit mental. Skizofrenia
Minimal perlu konsumsi obat selama setahun untuk mengembalikan seperti semula. Ini untuk skizofrenia tingkat awal.
Bahkan ada yang harus minum obat seumur hidup.
Sakit kan?

Masyarakat kita sebetulnya masih sangat kurang peduli.
Kenapa? Penderita skizofrenia masih sering dibilang lebay. Kalau menurut saya lebay apanya coba. Sakit.

Sakitnya tuh disini, (sambil nunjuk dada). Udah sakit masih di "hina". Dan lebih sakit itu penderita skizofrenia sering di bilang orang gila.

Pada tingkat satu, penderita masih bisa beraktifitas dengan sedikit gangguan. Namun lama kelamaan bukan berarti tak semakin parah.
Lucunya, masyarakat kita sering menganggap remeh urusan penyakit kejiwaan.
Padahal bisa membahayakan untuk si penderita dan orang sekitarnya.

Siapa yang sebenarnya mau menderita seperti itu. Iya kalau masih bisa dilawan, kalau nggak :)

Saya pernah berdiskusi dengan seorang teman saya yang juga menderita bipolar. Dia mengeluhkan ketika ia berada di titik bawah moodnya jadi tak terkendali. Jika di tahap depresi keinginan bunuh diri meningkat tajam.

Berbeda dengan penderita bipolar skizofrenia yang sering menerima halusinasi dan perubahan mood yang luar biasa.
Dulu saya pernah bertemu dengan teman yang mengalami bipolar, moodnya dapat berubah lima menit sekali. Bayangkan bagaimana rasanya. Atau yang moodnya sediiih terus selama tiga bulan.

Saya sendiri merasa ngeri untuk membayangkan banyaknya obat yang harus di konsumsi. Beratnya terapi dan melawan kuatnya halusinasi.

Kita tak perlu menganggap remeh penyakit apapun. Sebab tak ada yang mau menderita sakit.
Mari lebih peduli terhadap sesama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kusta, Pencegahan dan Dinamika Perawatannya

Kusta merupakan penyakit yang sudah ada sejak dulu yang disebabkan oleh kuman  Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh   Mycobacterium le...