Selasa, 22 Agustus 2017

Private Class PPA : Saya Jatuh Cinta (Lagi)

Alhamdulillah, MasyaaAllah setidaknya sampai tulisan ini saya buat sudah terdaftar 10ribu alumni PPA Se-Indonesia dari 80 Kota. 
Ini jumlah yang cukup fantastis. Alhamdulillah atas berkat rahmat dan cinta-Nya PPA bisa membuat para alumni merasakan getaran cinta.

Saya mungkin termasuk alumni jajaran awal, angkatan 20an. Dimana dulu PPA belum seterkenal saat ini. Dulu, sependek pengetahuan saya nggak setiap bulan di Jakarta menyelenggarakan PPA.
Saya ingat betul, waktu itu sahabat saya sekaligus perempuan yang saya anggap adik saya sendiri. Menceritakan PPA dengan versinya dia. Versi mahasiswa yang semangatnya berapi-api.


Waktu itu saya hanya ber-oh panjang. Emang apa serunya.
Yaa memang yaa, untuk bisa merasakan sesuatu kadang kita harus terlibat aktif.

Kemudian, dengan tekad sekuat baja. Bismillah saya daftar. Waktu itu EO PPA sependek pengetahuan saya belum sebanyak sekarang. Saya langsung daftar sama founder sekaligus trainer PPA yang masyaaAllah sekarang sudah semakin bersinar (dan semoga tambah berkah. Aamiin). Iya saya langsung menghubungi kak Rendy.
Waktu itu percakapannya kurang lebih gini,
S : Saya
R : Ka Rendy

S : Assalamu'alaikum kak, aku Resty. Kak aku mau daftar PPA dong. Di Jakarta kapan lagi ada kelasnya?
R : Wah, kalau di Jakarta kayaknya masih lama. Kamu kejar Tangerang aja ya. Akhir minggu ini. Alamatnya di... (Dikasihlah saya alamatnya sekaligus rute kendaraan umumnya)

Nah, masyaaAllah kak Rendy kurang baik apa coba sebagai trainer langsung kasih tau saya bagaimana menuju kesana.
Alhamdulillah dengan ridho Allah saya bisa berangkat. Hal yang paling berkesan, itu pertama kalinya saya pergi ke kawasan tersebut. Tentu saya nggak modal nekad ya, saya tanya sana sini untuk menuju kesana. Di google maps, prediksi waktunya 4 jam 30 menit. Saya berangkat pukul 05.30.
Kalau pakai matematika manusia, saya akan tiba disana kurang lebih pukul 10.00. Belum berikut macet dan lain sebagainya. Ini saya naik kendaraan umum loh yaa.
Tapi ya itu tadi, saya udah pasrah sama Allah mau gimana juga. Tau nggak saya sampai lokasi jam berapa? Pukul 8.20.
Sampai sekarang juga saya masih bingung. Kok bisa kok bisaaaaa? Ah yaudahlah yaa itu mah skenario-Nya.

*****

Hati yang Terluka

Sejujurnya ketika saya ikut PPA untuk pertama kali hati saya rasanya HAMPA. Hampa banget. Nggat tau itu hati condong kemana. Apapun yang saya lakukan rasanya sia-sia.
Saat itu posisi saya banyak menyalahkan Allah. Astagfirullah...
"YaaAllah kenapa saya begini, padahal saya begitu". 
Saat itu tanpa saya sadari, saya banyak menuntut sama Allah. Padahal dosa saya banyaaaaak banget dan saya baru aja tobat beberapa bulan. Namun saya udah nggak sabar. Saya berontak abis-abisan.

Waktu itu hati saya sakit banget. Harus menghadapi sesuatu yang sama sekali nggak saya inginkan. Dan itu rasanya bagai di sambar petir. Mulai keluarga yang kurang harmonis, suasana kantor yang nyebelin banget karena waktu itu kalau nggak salah lembur nggak berhenti-berhenti. Saya capek banget rasanya. Hubungan sama teman yang kayaknya malah banyak konfliknya. Belum lagi di tipu sama orang.
Anggaplah itu titik terbawah hidup saya.

Kemudian saya mulai mengikuti kelas PPA yang materinya di sampaikan oleh kak Rendy. Rasanya syahdu sekali. Perlahan hati saya menjadi tenang. Tenang yang sebenarnya loh yaa bukan yang dibuat-buat.
Saya serius mengikuti kelasnya. Sampai akhirnya di ujung acara saya bilang, "Ini yang saya cari selama ini. Kedekatan dengan Allah"
*****

Miracle PPA

Sebenarnya kalau saya mau menjabarkan, rasanya ruang ini tak akan cukup untuk mendeskripsikan semuanya. Maka izinkan saya bercerita bagaimana saya akhirnya menikah saya ya.
Tahun 2012, saya sempat berproses dengan seseorang. Namun mungkin karena saya terlalu menggantungkan harapan pada manusia, proses itu gagal. Ya jujur saja, sedih pasti. Namun kan saya harus tetap merencanakan kehidupan saya berikutnya harus seperti apa. 
Hubungan saya dengan dia pun masih baik sampai hari ini. Alhamdulillah.

Waktu berjalan, saya berproses lagi. Berkali-kali dengan irama yang berbeda. Bertemu dengan orang-orang yang memiliki visi misi yang luar biasa. Saat itu saya hanya bisa ber-wow ria. Namun lagi-lagi kandas. Sampai empat kali dan tak terhitung bagaimana saya harus merajut perasaan lagi. Akhirnya di pertengahan 2016, saya menyerah.
Kemudian saya fokus dengan mimpi-mimpi saya. Merealisasikannya satu demi satu. Daripada saya terus terpuruk kan yaa. Sambil sesekali saya bercanda dengan ibu saya, "Ma, kayaknya menjelang akhir tahun bakal ada yang ngelamar. Percaya deh sama Allah".
Itu saya bilang gitu ke ibu saya pagi-pagi pas baru bangun tidur.

Kalau Allah mau kasih kejutan, nggak perlu lama-lama. Jalannya pun biasanya lancar-lancar aja.
Siangnya, sahabat laki-laki saya tiba-tiba bilang mau ketemu. Ngajak makan malam dan biasanya kalau gitu, tandanya dia mau curhat.
Malamnya dia datang ke rumah, pamit sama orangtua saya mau ajak saya keluar sebentar. Tapi ini anak tumben rapi banget. Biasanya dia kalau rapi gitu mau ketemu sama gebetan barunya wkwk..
Akhirnya kita makan di foodcourt pinggir jalan gitu. Entahlah apa namanya pokoknya gitu.
Berkali-kali dia nanya, "Kamu lagi proses sama siapa"
Dan saya cuma bilang, "Kalau aku lagi proses, pastilah aku bilang sama kamu. Kapan sih aku bisa menyembunyikan sesuatu dari kamu".
Dia tiba-tiba menatap saya lama sekali, kemudian dia bilang, "Aku mau ngelamar kamu, boleh?".
Antara haru dan bahagia jawaban saya agaknya kurang memuaskan ya, saya jawab singkat banget.
"Kamu istikhoroh, minta petunjuk dari Allah. Kalau udah please minta ridho mama ya. Setelah itu ridho keluarga kamu. Kalau udah semua, kamu datang ke rumah. Bilang sama bapak aku".
Dan malam itu, pelangi datang lagi.

Rasanya tak perlu waktu lama, proses khitbah berjalan lancar.
Beberapa bulan kemudian kita menikah dengan proses tak disangka-sangka.

Sampai sekarang saya masih suka mikir, yaaAllah saya jaub-jauh cari calon suami dapatnya yang setiap hari selalu ada buat saya.
Memang rejeki dari Allah tidak di sangka-sangka.

*****

Mengajak Orang Ikut PPA

Nah, kalau yang ini kayaknya saya termasuk yang jarang mendaftarkan orang untuk ikut PPA. Mohon maaaf yaa bapak ibu sekalian.
Karena menurut saya, untuk bisa kembali mencintai Allah perlu hidayah langsung. Jadiii yaa, benar-benar nggak bisa dipaksa.

Contoh kecilnya suami saya sendiri -,-
Dari sebelum nikah saya ajak-ajak ikut PPA karena ini anak dari dulu galaunya suka keterlaluan. Jadi ya pengen saya ajak aja ikut PPA. Tapi ya emang Allah belum ridho. Dia jadi susah banget diajaknyaa :(

Alhamdulillah entah kenapa kemarin tiba-tiba awal Juli dia bilang mau ikut PPA. Dan Alhamdulillah emang dia ada yang bayarin. (Barakallah buat yang udah bayarin suami saya ikut PPA). Jadilah akhir Juli dia ikut PPA untuk pertama kali dan saya ikut reseat untuk kesekian kali :)
Setelah ikut PPA malah dia yang lebih semangat. Doakan semoga kami istiqomah yaa.
Maka dari itu, saya sebagai alumni PPA menyarankan kepada teman-teman untuk ikut bergabung dalam private class yang diadakan di berbagai kota besar di Indonesia. 
Karena rasanya ituu sesuatu banget. Saya tidak bisa mengungkapkan lewat kata-kata. Karena terlalu indah :)

Buat kakak kakak yang galau masalah jodoh, bisa ikut kelas PPA atau Sekolah Cinta PPA.
Buat adik-adik 7-12 tahun (range umurnya saya lupa berapa) bisa ikut PPA for Kids ya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...