Kamis, 01 Maret 2018

Aku Boleh Bangkit, kan?

Setelah aku tulis banyak tentang kisah pernikahanku yang mulus dan bahagia.
Rasanya nggak adil kalau aku nggak cerita tentang gimana 'busuknya' masa laluku.

Kita nggak mungkin bisa berubah kalau kita nggak tahu masalahnya. At least, kita nggak pernah tahu jalannya supaya kita berada di track yang lurus kalau kita nggak pernah ada dijalan yang berliku.

Buat aku, hidup emang nggak harus sok suci dengan menganggap remeh orang lain. Menganggap semua yang dilakukan orang lain berdosa sementara kitanya sok suci dengan menghina orang lain.
Buat aku, ini jauh lebih nista. Karena bisa jadi mereka yang kita hina ternyata sudah taubat nasuha dan dapat jaminan surga. Lah kita yang menghina, sudah dapat apa?

Dulu, jujur aja aku pernah pacaran. Emang sih nggak sampai MBA. Aktif secara seksual baru setelah menikah. Namun bukan berarti aku bebas menghina orang lain yang pernah melakukan dosa seenak udelku.

Aku pernah berpegangan tangan, ciuman, pelukan sama non mahram. Pernah banget kok. Dan suamiku udah tau hal ini, karena dulu waktu belum nikah, 8 tahun lalu. Dia pernah cium aku. Aku pernah peluk dia pas naik motor. Kita bahkan pernah pegangan tangan. At least, aku gamau jadi orang munafik yang sok suci.

Suamiku ini, dulunya mantan pacarku. Kita putus karena dulu dia selingkuh. Aku memutuskan pergi. Kemudian aku jadi sahabatan sama dia. Nggak ngerti gimana ceritanya bisa begitu, tapi yaa aku kalau ada apa-apa curhatnya sama dia.
Dari situ, kita belajar jaga jarak. Jaga diri. Ternyata ini loh yang nggak boleh dilakukan sama non mahram. Kita sama sama belajar agama lebih dalam. Makanya kita gamau ngejudge orang lain hitam dan hanya kita yang putih.

Tahun lalu kita nikah. Dan semua foto pernikahan kita. KAKU semua.
Karena apa? Ya karena aku sudah menyimpan rasa malu. Malu karena tadinya bukan siapa-siapa eh sekarang jadi siapa-siapa yang sah aja melakukan apa saja semau dia terhadap tubuhku. Kan udah sah, jadi mau gimana juga bebas kaaan.

Aku menyadari sepenuh hati, bahwa aku pernah hitam. Aku pernah kotor dan mungkin sebagian orang menatapku menjijikan. Namun, boleh dong sebagai manusia biasa aku bangkit lebih baik lagi.

Mengutip perkataan mbak Grace Melia, "Pernah brengsek bukan berarti ke depan harus brengsek terus".
Buat aku, pernah hitam bukan berarti tidak boleh menjadi cemerlang.

Kita boleh jadi hitam, dan mungkin orang lain akan tetap beranggapan bahwa kita selalu hitam tapi bukan berarti kita tidak boleh memperbaiki sisi hitam kita.
Memang mungkin tidak selalu menjadi putih, tapi boleh dong kalau kita menjadi hitam yang mempesona.

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...