Selasa, 19 Juni 2018

Mencintaimu, Menunggu Ridha Allah (2)

Jadi bukan tanpa alasan akhirnya aku begitu membenci Seruni. Sederhananya, ketika apa yang kita sayang diambil oranglain apa kita tidak sedih.
Salahnya adalah saat itu aku merasa memiliki mas Sutaa. Sehingga perih saat diambil oranglain.

Dulu, selain kehadiran Seruni dalam hubungan romantisku dengan mas Sutaa. Ada hal lain yang membuatku belum mau melanjutkan hubungan ini.
Haram rasanya bagiku menjalin hubungan tanpa restu orangtua. Karena saat itu aku masih sekolah, jauh rasanya untuk menuju jenjang pernikahan.
Aku iri loh sama Seruni,  nggak di setujui aja bisa bertahan begitu lama.  Aku? Manabisa.

Kemarin,  saat sesi terapi psikologis aku refleks berkata,  "ya pokoknya Seruni jahat, jahat banget.  Tega banget sama aku. Dia kan udah tau posisiku. Dia kan harusnya paham perasaan sesama perempuan. Dia harusnya tau diri dong tapi aku udah minta maaf sama dia"

Psikolognya malah nanya, "kamu kenapa minta maaf sama dia?"
"Aku takut ada salah aja sama dia. Kali aja dengan aku menyimpan dendam aku jadi ada dosa ke dia"

Tau nggak apa kata psikolognya? Beliau bilang,  "Harusnya si Seruni yang minta maaf ke kamu"
"Iya harusnya gitu karena dia udah jahat ke aku"
"Mbak mohon maaf di dunia ini tidak ada orang jahat. Di dunia ini hanya ada orang yang tidak bahagia"
"Iya kayak Seruni tuh nggak bahagia sampai merebut kebahagiaanku"

Abis itu aku langsung di hypnoterapi.  Di sela-sela hypnoterapi, aku ingat bahwa beliau berkata,  "Sudah yaa mbak maafkan Seruni.  Mungkin dulu dia khilaf. Dia nggak sengaja. Percayalah dia orang baik yang terjebak oleh perasaannya sendiri.  Dia nggak sengaja kok menyakiti mbak. Dia nggak sadar.  Dia belum menemukan kebahagiaannya sampai dia ambil kebahagiaan mba. Ikhlas ya mbak. Doain dia ya mba semoga sehat terus, cepat dapat jodoh, rejekinya banyak., dst..."

Disitu sambil pelan-pelan mulai melepas beban dendam dalam jiwa. Kalau aku boleh bilang sama Seruni, aku bakal bilang gini "Lihat nih kak karena kelakuanmu aku jadi nggak percaya sama hubungan dengan lawan jenis. Aku jadi antipati sama sesama wanita. Dan yang paling parah kak, mungkin hatiku udah bernanah. Udah sakit banget. Karena sakit yang keterlaluan, aku sampai harus ketemu psikolog dan psikiater kak.  Kamu gatau kan rasanya di sakiti begitu?"
Aku jujur pengen banget ngomong gitu.  Pengen ngomong yang kasar-kasar biar puas.

*****
Juni 2016

Mas Sutaa tiba-tiba menghubungiku untuk mengajakku makan malam diluar. Aku sih oke. Malah aku ngosongin perut biar bisa makan yang banyak. Receh banget ya.
Saat itu perasaanku masih sayang sama dia. Aku taulah yaa gimana hatiku ke dia. Senang sekali saat dia ajak aku makan malam diluar.

Oke sampai tempat tujuan aku memilih makanan cari minuman. Santai aja yaa pokoknya. Sambil dalam hatiku teriak-teriak,  "ini bocah mau curhat apalagi?"
Karena biasanya kita saling curhat masalah mantan lol.

Namun tiba-tiba dia bilang,  "Aku mau ngelamar orang nih".

Tau nggak hatiku rasanya gimana?  Hancur bangeet. Ini bocah mau ngelamar siapa. Seruni? Kalau iya duh nggak ikhlas banget yaa.  Apalagi ada story mas Sutaa disakiti juga sama tuh orang.
Sedih,  airmata mau turun tapi ditahan dan sok ikutan bahagia.

"Oh iya bagus dong mas. Udah mau serius aja sekarang. Duh nanti kalau kamu udah nikah kita gabisa begini lagi dong yaa? Gabisa bersenang-senang berdua. Gabisa nonton sampai larut malam. Gabis ini gabisa itu"

Dia sambil mesem-mesem bilang,  "ya tetap bisa dong"
"Haram yaa mas aku ganggu hubungan orang apalagi udah nikah gitu"
"Aku mau ngelamar orang didepan aku"

Antara senang sama terkejut.  Masih nggak percaya Karena dulu orangtuanya belum setuju.  Agak worry kalau nikah tapi nggak disayang mertua. Oh aku tak sanggup dan aku tak mau. Aku nggak mau berantem sama mertua. Aku maunya di sayang-sayang kayak anaknya sendiri.

"Mas istikhoroh dulu deh terus minta izin orangtua" aku jawab santai sambil menikmati makanan KAKI LIMA lol.

(Kaki limanya di capslock biar semua orang tau bahwa aku bisa makan dimana aja dan nggak dikatain nggak sederhana lagi.  Ini penting.  Semoga Muti baca lol.)

Saat itu aku cuma bisa jawab gitu. Padahal mau banget bilang,  "mau nikah besok juga ayo".
Tapi yaa gitu.  Cari ridha Allah dulu.  Raih ridha orangtua juga.

Waktu berjalan, ridha orangtua sudah didapat.  Ridha Allah mengikuti. Aku tak bisa melawan. 
Akhirnya kita menikah dan saat ini aku mencoba untuk terus bahagia dengan berbagai terapi dan keikhlasan.

1 komentar:

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...