Rabu, 20 Juni 2018

Mencintaimu, Menunggu Ridha Allah (3)

Hidup adalah tentang penerimaan sebaik-baiknya. Disertai sabar dan ikhlas juga syukur.
Banyak pengalaman menjadikan kita lebih dewasa. Meskipun ada pengalaman yang membuat luka dibatin.  Tidak bisa hilang tapi bisa disederhanakan.
Aku menulis ini hanya sebagai portofolio. Menulis pengalaman yang aku alami. Bukan bermaksud untuk tidak dewasa atau lain sebagainya.

*****
Seruni memang hanya hadir satu kali. Hanya saja membuat luka yang cukup besar untukku. Aku sempat tidak percaya laki-laki dan antipati pada perempuan. Mindsetku berubah menjadi laki-laki diberikan perempuan cantik mana ada yang menolak.



Baik kita kembali menceritakan hubungan dengan Seruni. Ia datang sekali tapi setelah itu dia benar-benar pergi. Salahnya adalah dia berani bertahan bertahun lamanya.

Aku sudah menjelaskan bahwa dulu aku pacaran sama mas Sutaa.  Dan mas Sutaa sendiri juga bilang bahwa Seruni tau bahwa aku juga ada hubungan dengan mas Sutaa. Namun kenapa dulu Seruni nggak pergi aja terus membiarkan aku menjalani dengan mas Sutaa?
Dimana hati nuraninya? Aku masih tidak habis pikir sampai hari ini.
Kok yaa tega menyakiti hati perempuan lain.

Sampai detik ini Seruni mengaku bahwa dulu dia tidak tau bahwa aku pacaran sama mas Sutaa.  wtf. Tapi aku tidak percaya begitu saja. Bisa saja kan dia berdusta?
Aku bahagia dengan hidupku sekarang.  Amat bahagia. Aku dan mas Sutaa saling menyayangi dan direstui Allah dan orangtua.
Di sayangi dan dikasihi bak ratu istana adalah kebiasaan yang aku dapatkan dari suamiku. 

Aku menulis ini semua bukan untuk membenci suamiku.  Aku amat menyayanginya.
Namun aku menulis untuk anak-anakku semoga kelak nantinya mereka tidak menjadi orang-orang yang suka menyakiti orang lain.  Suka merebut kebahagiaan orang lain. Dan aku sangat berharap nantinya anak-anakku kenal dengan keluarga besar pacarnya supaya tidak terjadi hal-hal seperti yang suamiku alami.
Terlalu jauh memang tapi aku harus cukup waspada.
Jadi aku juga punya cerita yang hampir mirip. Dan rasanya sungguh menggoda iman.


2013
Jadi di tahun 2013 aku sempat berpacaran dengan Dimas. Dia anak yang cukup baik dan menggemaskan. Ilmunya banyak dan asyik untuk diajak bercanda. Tidak lama kemudian aku diajak berkunjung ke rumah sepupunya di Surabaya.  Yaa aku mau dong kenalan sama keluarganya.
Kebetulan waktu itu aku dan Dimas menjalani LDR. Sementara itu aku di Bekasi, Dimas di Semarang.

Sepupunya Dimas ini namanya Wahyu. Dia baik juga. Kebetulan dia tugas di Jakarta. Aku lebih sering bertemu Wahyu daripada Dimas.
Wahyu baik sering memberikan tiket pesawat padaku untuk menemui Dimas. Coba kurang baik apa gengs?  Tiket pesawat nggak murah loh.  Dan itu sering banget bisa sebulan sekali.
Waktu berjalan,  aku ada masalah dong sama Dimas. Dia suka perempuan lain. Aku nggak terima. Yaudah larinya ke Wahyu, curhat itu ini. Wahyu juga memberikan solusi yang baik kok bukan berusaha menjauhkan aku dari Dimas. Bukan sama sekali.
Bahkan saat-saat terakhir itu ia rela menemaniku ke Semarang dan menyelesaikan semuanya.
Singkat cerita hubunganku dengan Dimas berakhir.
Wahyu tiba-tiba menyatakan perasaannya padaku tapi minta jangan diterima.  Ya bagus dong aku jadi nggak bingung lol.
Masalahnya begini gengs,  aku nggak mau kayak Seruni.
Aku nggak segila itu dan aku masih waras.
Cuma si Wahyu aja yang agak kurang bisa dipahami perasaannya. Nggak mungkin dong abis dari Dimas terus ke Wahyu.  Nggak mungkin dan aku masih punya harga diri. Aku nggak serendah itu untuk soal cinta.

Aku tidak menerima Wahyu tapi aku tetap dekat sama dia. Suka jalan bareng, makan bareng yaa pokoknya standar aja ya menurutku. Tapi kemudian menjadi kompleks saat orangtua Dimas dan Wahyu mencium kedekatanku dengan Wahyu.
Kemudian yang selanjutnya terjadi adalah aku dipanggil oleh ibunya Dimas lol.
Aku di nasehati abis-abisan dengan penuh kasih sayang.  Kurang lebih begini,  "Nak, bunda tau dulu kamu sudah amat kecewa sama Dimas.  Mohon dimaafkan ya. Tapi kok bunda agak sedih ya kamu menjalani hubungan sama  Wahyu. Bunda tetap sayang sama kamu. Tapi bisa nggak bunda minta tolong buat nggak terlalu dekat sama Wahyu. Bunda sedih lihat Dimas sama Wahyu jadi berantem gitu. Bunda sama budenya Dimas juga jadi kayak bersitegang gitu. Kamu cari laki-laki lain yang lebih baik aja yaa. Pasti dapat kok"

Lol.  Kok aku rasanya sakit yaa di gituin. Dari tadinya sayang banget sampai aku dinasehati begitu.  Dari yang tadinya care banget sampai kecewa.
Sementara itu,  ibunya Wahyu setuju saja dengan hubunganku dengan anaknya. Belum pacaran aja masalah sudah serumit ini. Ohh aku tak kuasa jika aku menikah dengan Wahyu kemudian tidak di sayang sama keluarganya. Bukan bahagia nantinya malah sengsara. Aku tak kuasa.

*****
Pengalaman yang terjal itu mampu membawaku untuk bersikap sedikit mikir. Bahwa untuk menikah bukan hanya untuk berdua tapi untuk sekeluarga besar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kusta, Pencegahan dan Dinamika Perawatannya

Kusta merupakan penyakit yang sudah ada sejak dulu yang disebabkan oleh kuman  Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh   Mycobacterium le...