Selasa, 24 Juli 2018

Bersahabat dengan Depresi

Entah kenapa setiap mendengar atau melihat tulisan tentang depresi, hati saya rasanya hancur sekali. Sedih, marah, kecewa, semua jadi satu.

Tentu setiap orang ingin hidup normal tanpa depresi. Namun lagi-lagi hidup ini keras dan dipenuhi oleh orang-orang yang keras hatinya. Sehingga tidak memiliki empati pada oranglain.

Saya mengalami depresi sejak kecil.  Sejak usia saya masih empat tahun. Bayangkan, usia empat tahun saja saya sudah mengenal depresi. Berujung kini berubah menjadi DID.

Semua bermula saat saya sedang asyik bermain sepeda. Kemudian ada seseorang yang memarahi saya.
Dan suaranya masih menggema dalam telinga saya. Sampai saat ini.

Sebagai balas dendam saya, saya juga jadi suka marah-marah sendiri. Dan semuanya diluar kontrol saya. Benar-benar diluar kuasa saya. Saya bahkan dalam keadaan tidak sadar saat marah-marah. Whatever people say.

Saya pun sebenarnya ingin marah.  Iya marah pada keadaan yang seolah menjelma bagai monster yang tak mau bersahabat dengan saya.

Waktu berganti, nyatanya depresi bukannya menghilang malah bertambah. Lagi dan lagi saya menyerah pada keadaan.

Luka batin semakin menganga. Jelas sudah ketika saya semakin tak beraturan cara hidupnya. Tak kuasa rasanya saya mengolah rasa lagi.
Akhirnya saya putuskan pergi ke psikolog. Entah karena satu hal dan lainnya, saya berhenti.
Akhir 2014, saya putuskan untuk pergi ke psikiater berbekal rasa sok tahu saya. Jelas meminta pertolongan.

Saya menjelma bagai robot kala itu, berat badan bertambah. Jalan kaku bagai robot.
Seolah entahlah.
Lagi. Saya ingin menyerah pada keadaan tapi saya harus bertahan.

Saat saya ke psikiater, diagnosa dokter langsung mengarah ke skizoafektif. Gangguan skizo dan gangguan mood.
Awalnya saya kira, saya bipolar. Ternyata bukan.

Maka kali ini saya harus bisa memeluk depresi saya.  Kemudian hidup bersama dengan tenang.
Tapi saya tak menyerah. Saya akan terus berusaha agar Tuhan selalu melindungi saya.

2 komentar:

  1. Bapak yg marah2 itu orang terdekat bukan? Sekarang di mana?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukan kak, tetangga dulu itu.
      Sekarang si bapak sudah meninggal

      Hapus

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...