Kamis, 30 Agustus 2018

Rumah Tangga dan Urusan Mertua

Rumah tangga dan urusan mertua menjadi momok tersendiri bagi pasangan baru menikah.
Pola pikir dan pola asuh yang berbeda. Kerap kali menjadi hubungan yang kurang harmonis antara menantu dengan mertua.
Apalagi jika mertua terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga kita.
Sebagai orangtua, wajar rasanya jika ingin anaknya hidup bahagia. Namun menjadi tidak wajar saat orangtua atau mertua terlalu ikut campur dalam kehidupan rumah tangga anak.
Sebagai anak pun,  kita harus tahu saat-saat yang diperbolehkan berbicara dengan orangtua atau mertua kita. Karena tidak semua cerita berhak diketahui oranglain. Termasuk mertua dan orangtua kita sendiri.
Aku terlahir dari keluarga biasa saja. Namun aku ada trauma dengan makanan. Jadi aku hanya bisa memakan beberapa menu saja. Hal ini membuatku takut untuk masak. Takut disini bukan berarti aku malas tapi karena aku yaa memang tidak berani.
Berbeda jauh dengan mama mertuaku yang jago sekali dalam hal masak memasak.
Masakan beliau itu enaknya kebangetan loh.
Nah aku kalah dalan skill memasak ini oleh mertuaku.
Dan urusan makan ini, menjadi hal yang paling aku takutkan. Karena apa?  Karena suami cenderung suka makan dirumah mamanya daripada masakanku.
Cara menaggulanginya :
1. Tanya ke suami hari ini mau makan dimana?  Kalau jawabannya dirumah mama,  artinya aku tidak perlu repot-repot masak. FYI, tempat tinggalku sama mama mertua itu cuma beda satu gang. Lol
2. Namun kalau jawabannya mau makan dirumah, Tanyakan mau makan apa?
3. Cari resep di google atau youtube.
4. Masak dengan menggunakan feeling.
Untuk urusan masak memasak selesai yaa. Sudah ketemu solusinya.
Adapun masalah lain ialah, aku kalau sakit pulang ke rumah mamaku dan suamiku kalau sakit pulang ke rumah mamanya. Kecuali kalau rawat inap. Baru perginya ke rumah sakit
See, apa yang salah dengan pernikahanku?
Solusinya :
Aku berbicara pada suamiku bahwa aku mau mengurusnya dikala ia sedang sehat maupun sakit. Bukan 'dipulangkan' ketika ia sakit dan kembali ketika ia sehat.
Akhirnya, kami sepakat kalau sakit ya di rumah aja. Meskipun godaan jarak amatlah hebat.
Untuk urusan finansial, kami alhamdulillah sudah mandiri dan tidak merepotkan orangtua.
Kalaupun meminta tolong biasanya bukan berupa uang melainkan minta dibuatkan makanan apa. Sebatas itu.
Sementara untuk masalah komunikasi. Aku masih agak rikuh. Dimana aku seringnya berfikir dulu sebelum berbicara. Berbeda dengan mertuaku yang lebih ceplas ceplos. Kadang ada rasa dimana kok hati rasanya sakit banget tapi nggak berdarah ya?
Makanya aku sedang belajar pola komunikasi mertuaku.
Untuk soal menasihati, aku lebih suka yang soft, tidak menghakimi dan terarah.
Semoga dengan tulisan diatas dapat diambil kesimpulan yang baik-baik. Satu lagi, hampir semua mertua baik. Yang kita butuhkan adalah komunikasi yang efektif.
Demikian curhatan receh mengenai rumah tangga dan urusan mertua.

Sabtu, 25 Agustus 2018

Jalan ini Bernama Perpisahan

Dalam setiap pertemuan tentu menghasilkan banyak hal. Mulai dari tawa bahagia sampai derai air mata.

Namun aku memilih berpisah demi kebaikan kita semua. Demi masa depan yang lebih indah. Dan aku yakin semua bisa terwujud dengan  istimewa.

Aku tahu dan aku menyadari,  bahwa dibalik keputusanku ada sesuatu yang entahlah.
Namun aku selalu percaya dengan janji kehidupan baru. Janji kehidupan yang jauh lebih baik lagi.

Aku bisa jadi yang paling optimis mendengar kabar bahwa akan ada tempat baru. Karena aku percaya ada janji janji kehidupan baru yang entahlah. Namun aku yakin akan bahagia. Dan kini semua itu terbukti nyata

Terimakasih sudah menerimaku dengan penerimaan sebaik-baiknya di tengah segala kurangku.
Terimakasih telah banyak memaklumiku yang banyak sekali alfa dalam kehidupan kalian.

Aku hanyalah manusia yang hanya bisa berencana. Dan sebenarnya rencanaku untuk pergi tidak secepat ini. Namun karena kondisiku yang semakin tak menentu membuatku harus memilih jalan yang sebenarnya aku pun tak suka.

Aku bukan tidak menyayangi kalian. Bukan sama sekali. Namun karena sayangku membuncah dan tak ingin kalian terluka maka aku putuskan untuk pergi lebih awal.

Semoga ketulusan kalian dibalas oleh Allah. Karena apalah aku yang lemah tak berdaya tanpa kuasaNya.
Aku menghaturkan banyak terimakasih atas ilmu kehidupan yang telah kalian ajarkan tanpa aku memintanya.

Maaf karena aku harus pergi lebih dahulu setelah kita merintis bersama. Aku ingat betul saat awal-awal kebersamaan kita.
Dari bertiga, berlima,  bertujuh,  sampai saat ini berlima belas.

Sungguh perjuanganku dimulai dari sini.
Perjuangan kalian dilanjutkan dari sini.

Aku mencintai kalian karena Allah.
Aku pun akan merindukan saat-saat bersama kalian.

Aku akan merindukan saat-saat berdebat dengan kalian. Bersenda gurau serta saat-saat aku melakukan kesalahan dan kalian menegurku.

Aku bahagia pernah ada di tengah-tengah kalian.
Teruntuk kalian yang aku sayangi,  jaga kesehatan. Fisik dan batin.
Sayangi keluarga.
Sayangi badan.
Dan jangan lupa liburan tapi setelah liburan harus lebih bersemangat lagi untuk meraih mimpi.

Salam sayang,

Afika

Kamis, 23 Agustus 2018

Persiapan Sebelum Pernikahan

Dalam mengarungi bahtera pernikahan tentu banyak yang harus di siapkan.  Diantaranya adalah hati yang lapang dan menerima dengan ikhlas.

Apa yang di terima dengan ikhlas?  Yaitu masa lalu pasangan kita. Kemudian hidup bersama untuk masa depan.

Kenapa harus menerima masa lalu?  Karena masa lalu tidak dapat diubah dan sejatinya masa lalu adalah pengalaman yang menjadikan kita lebih baik lagi hari ini.

Banyak diantara kita yang melulu membicarakan masa depan tanpa peduli masa lalu. Maka sesungguhnya berdamai dengan masa lalu adalah sesuatu yang baik adanya.

Dalam kehidupan berumah tangga,  masa lalu bisa menjadi cerminan terhadap masa depan yang akan dijalani.

Tapi tidak melulu membicarakan masa lalu tapi sesekali bolehlah membicarakannya untuk hidup lebih baik lagi.

Kemudian selanjutnya adalah menyelesaikan kisah masa lalu. Jika ada kisah yang menggantung,  segeralah selesaikan dengan baik. Jika tidak,  bisa jadi hal tersebut menjadi bom waktu yang bisa meledak kapanpun. Misal disaat kita lengah dan hampa.
Orang dari masa lalu bisa jadi hadir dalam pernikahan kita dan memporak porandakan mahligai yang sudah kita buat.

Selanjutnya adalah penerimaan terhadap diri sendiri dan masa lalu yang pahit getir beserta manisnya harus kita terima dengan ikhlas.

Karena pada kenyataannya, kadang kita tidak menerima masa lalu kita tapi kita menghapusnya dalam memori kita karena terlalu menyakitkan.

Maka penerimaan terhadap diri sendiri adalah hal yang penting dalam praktek kehidupan pernikahan.

Selain masalah mental,  tentu kita harus mempersiapkan hal-hal bersifat materi untuk menunjang kehidupan pernikahan kita.
Tabungan yang cukup untuk kehidupan jangka panjang menjadi hal yang penting.

Kemudian adalah buka jalan silaturahmi. Jika kita membuka jalan silaturahmi, maka hidup kita akan semakin damai. Saudara semakin banyak dan relasi meningkat.

Dalam pernikahan hal ini di butuhkan agar tidak melulu menjadi orang-orang yang relasinya sempit.

Demikian apa yang bisa aku sampaikan semoga bermanfaat yaaa

Selasa, 14 Agustus 2018

Suasana Di Rumah Sakit Jiwa

Aku menderita halusinasi parah. ada suara yang menyuruhku untuk bunuh diri atau membunuh oranglain. itu sangat menakutkan bagiku. Aku berulang kali ingin melakukan percobaan pembunuhan dan percobaan bunuh diri.

Obat yang diberikan psikiater telah aku minum dengan rutin tapi bisikan itu terus saja menghampiriku. Aku tidak kuat untuk menahannya. Akhirnya setelah konsultasi dengan psikiater aku harus di rawat inap di RSJ di timur Jakarta.

Suasana disana sangat kondusif, bahkan aku bisa istirahat dengan nyaman. Tidak ada gangguan berarti pada siang hari dan tidak ada yang menggangguku selama aku berada disana. Awalnya aku kira aku akan dimasukkan ke dalam semacam jeruji besi, namun ternyata tidak demikian. Aku hanya ditempatkan pada ruangan biasa yang ada ruang tengahnya dan ada kamar-kamar.
Aku dirawat di ruang kelas 1, dengan jumlah pasien dalam satu kamar berjumlah dua orang dan teman sekamarku adalah seorang ibu berperawakan gemuk. Orangnya sangat kooperatif dan bisa diajak bekerja sama.

Untuk masalah makanan, aku diberikan makanan yang bergizi tentu saja. Terdiri atas nasi, sayur, lauk pauk dan susu. Adapun perbedaan antara kelas 1, 2 dann 3 adalah cara penyajiannya. Dimana kelas 1 disajikan pada piring-piring tertentu yang dipisahkan antara nasi, lauk, dan sayurnya. Sementara Kelas 2, dipisahkan antara nasi dan lauk beserta sayur pada tempat makan bersekat. Sementara kelas 3 menggunakan nampan bersekat.

Malam hari suasana menjadi mencengangkan lepas pukul 03.00 WIB. Aku yang terbiasa bangun pada pukul itu tentu saja secara otomatis terbangun dari tidurku. Kemudian aku lihat ibu di sebelahku sedang berteriak minta tolong untuk di panggilkan suster. Aku yang awam tentu saja menuruti untuk memanggil suster. Serelah aku panggilkan, yang dijawab suster adalah "Ibu yang gemuk itu ya? Gapapa dia emang sakitnya begitu. Kamu tidur lagi aja"
Padahal aku juga tidak tahu kalau aku kambuh kondisinya seperti apa. Apakah meraung-raung ataukah hanya menangis dalam diam.

Sementara itu,  ada beberapa pasien lain yang membuatku bersyukur lebih banyak. Sebut saja Mawar.  Ia berulang kali memanggil ayah dan ibunya. Dari situ aku bersyukur bisa bertemu orangtuaku setiap hari.

Secara keseluruhan,  suasana disana damai, tentram dan menenangkan.  

Senin, 13 Agustus 2018

Why Me God?

Aku terlahir normal tidak ada cacat fisik. Alhamdulillah. Namun sesuatu merenggut jiwaku. Trauma yang terus menerus di tumpuk menjadikanku tumpul dalam menjalani kehidupan. Sakit secara psikis.

4 Tahun, 1997
Siang itu aku bermain sepeda. Tertawa girang layaknya anak usia empat tahun. Seolah tanpa dosa aku bermain-main. Tiba-tiba seorang bapak memarahiku, jahat sekali. Ia membentakku keras sekali. Saat itu ia memang orang yang cukup terpandang di wilayah tempat tinggalku. 
Ia lantas dengam kasar memarahiku. Menjadikanku pelampiasan kemarahannya. Tanpa tedeng aling-aling mulutnya terus saja berbicara kasar sekali. 
Nyatanya tidak satu dua kali ia memarahiku.


5 Tahun, 1998
Aku bertengkar hebat dengan adikku. Entah bagaimana ceritanya banyak orang yang menonton dan bersorak sorai. Hingga akhirnya bapak yang memarahiku sejak usiaku empat tahun ikutan datang dan memarahi. 
Katanya begini,  "kamu lama-lama bisa membunuh nenekmu".
Aku geram. Sakit hati sekali atas perkataannya. Tidak sampai disitu, dia menunjuk-nunjukku tajam. Aku membenci dirinya.


Pertengahan 2015
Aku lulus Sekolah Dasar. Kemudian aku memilih untuk ikut tes di sebuah sekolah negeri ternama di kotaku. 
Setelah serangkaian tes aku lalui, aku gagal. Iya aku gagal setelah rasa optimis aku pertaruhkan. Setelah rasa kecewa aku dapatkan. Seolah aku tak dapat berfikir jernih. Kemana lagi aku akan melanjutkan sekolahku. Pasrah. 
Orangtuaku akhirnya mendaftarkanku ke sebuah sekolag yang aku amat tidak menyukainya. Namun aku akhirnya bertahan selama tiga tahun dengan amat terpaksa. Aku bahkan di bully selama disana. Bertahun lamanya aku bertahan. Akhirnya aku lulus dengan nilai memuaskan. 
Akhirnya aku putuskan untuk melanjutkan ke sebuah sekolah kejuruan terkenal di kotaku. Aku lulus dan di terima. Alhamdulillah.


Mei 2008
Kakak dari sahabatku menikah. Aku lantas diminta menjadi pagar ayu. Ayu mengangguk setuju.
Pada saat acara seorang laki-laki  yang tidak lain adalah sepupu dari sahabatku mendekatiku. Kami pun berbincang hangat. Jujur aku menyukainya. Amat menyukainya. Dia asyik diajak berbibcang. Wawasannya luas dan tidak sombong.
Akhirnya kami berpacaran. Aku bahagia sekali meskipun restu ibunya belum dapat ku raih. Masa bodo. Semoga suatu saat nanti bisa aku dapatkan. Fikirku saat itu.
Nyatanya, seorang perempuan bernama Seruni datang mengusik kehidupan percintaan kami. Ia bagai perempuan yang mengemis cinta pada lelakiku saat itu. 
Seruni adalah makhluk yang nyata-nyata merusak bagian terpenting dalam hidupku. Cinta. 
Ia membuatku meragukan apa itu cinta. Aku jadi menganggap bahwa perempuan harus mengemis untuk di kasihani. Mengemis untuk di cintai. 
Aku memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Iya semuanya. Menghindari laki-laki itu dan tidak lagi mengganggunya sampai ia mengakhiri hubungannya dengan Seruni. Begitulah niatnya. 

15 November - 6 Desember 2010
Aku mengenal seorang teman laki-laki. Anaknya baik sekali. Aku amat menyukainya. Kemudian kami berpacaran. Namun takdir berkata lain. Ia meninggal pada 6 Desember 2010. Saat aku sedang sayang-sayangnya. Saat perasaanku membuncah kagum padanya. Saat sebuah janji baru saja diucapkan. Saat aku sedang percaya bahwa ia akan memenuhinya beberapa tahun lagi. 

Saat aku mencintainya. Iya aku jatuh cinta padanya. Cinta yang aku rasa dalam dan tulus tanpa paksaan.
Aku bahagia saat itu. Hingga akhirnnya maut menyapa untuk segera berpisah. Selamanya. 

Maret 2015
Akhir Maret menjadi sesuatu yang amat menyedihkan bagiku. Nenekku, perempuan yang sangat aku sayangi harus pergi meninggalkanku selamanya. 

September 2018
Dan semua berawal disini. Bisikan itu hadir. Ia menyuruhku lompat dari mobil yang sedang melaju di jalan tol. Mobil yang sedang berada disisi kiri jalan. Aku hampir saja membukanya. Kemudian bisikan itu terus ada setidaknya sampai saat ini. Ia terus menggangguku. 
Bisikan itu jahat sekali dan aku amat membencinya. Aku ingin sekali ia pergi. Sungguh ia hadir dimana-mana. Dimanapun aku berada ia selalu mengikuti. 
Aku akhirnya memutuskan ke psikiater dan di vonis skizoafektif dan gangguan kepribadian tidak stabil tipe ambang. 
Aku kadang bisa menciptakan karakter lain dan itu amat nyata. Dan itu bukan aku. Setelah di teliti, ada trauma yang bersarang dan itu terus di tumpuk. 
Aku banyak berhalusinasi dan terus berhalusinasi. Aktivitasku terganggu dan tidak dapat di selamatkan karena halusinasi yang tidak kunjung hilang.
Ia seolah menjadi teman yang mematikan. Aku ingin sekali menyerah dan tidak kembali lagi bersama halusinasi. 

fajarafika.blogspot.com

Kamis, 09 Agustus 2018

Menginap di Rumah Sakit Jiwa

Setiap ada postingan yang menayangkan tentang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) pasti ada saja komentar negatif. Biasanya orang yang berkomentar negatif tidak pernah merasakan rasanya hidup bersama ODGJ.

Hidup bersama ODGJ itu berat. Tidak semua orang sanggup melakukannya. Tidak semua sabar untuk menampung ODGJ. 

Kenapa saya tahu itu berat?
Karena saya pernah di rawat di RSJ. Sebab saya mengalami halusinasi yang cukup parah. Bisikan yang sangat mengganggu.

Saya awalnya berfikir bahwa saya akan dipisahkan dengan mereka yang mengalami gangguan jiwa yang berat. Ternyata tidak.

Nyatanya saya harus betah hidup bersama mereka berhari-hari. Tanpa ada yang menunggui, tanpa akses komunikasi keluar. Pure saya harus membaur disana.

Saya menginap disana selama tiga hari saja sudah rungsing mau pulang terus. Bagaimana yang setiap hari hidup dengan ODGJ.

Jujur saja, mungkin bisa depresi jika tidak punya kesabaran penuh.
Saya sedih melihat orang berjalan terus menerus sampai harus di isolasi. Saya sedih mendengar mereka berteriak kesakitan meskipun saya tidak tahu sakitnya apa.

Pada satu malam saya tinggal disana, ada seorang ibu yang tengah malam berceracau berkali-kali. Berteriak kesakitan sampai pagi. Memanggil nama mantan pasangannya berkali-kali. Fiks tidur saya tidak berkualitas malam itu. 

Keesokan paginya, si ibu dibantu suster membersihkan diri.
Sehari-hari saya disana, saya melihat banyak hal dan membuat saya bersyukur karenanya. Karena meskipun saya punya gangguan, saya masih sadar dan bisa hidup normal.
Bukan hanya bisa menangis, diam sepanjang masa atau berteriak. Saya masih normal menjalani hidup dengan segala keterbatasan saya.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah para ODGJ juga ingin hidup normal. Ingin di akui eksistensinya. Ingin di mengerti dan ingin sekali keberadaannya di perlakukan sama dengan orang lain.

Selain pelajaran saya juga mengalami berbagai pengalaman yang unik. Mulai dari snack yang hilang sampai deodoran dan parfum yang lenyap. Tapi puji syukur semuanya bisa kembali lagi ke saya.

Ternyata saya masih diberikan kesempatan hidup normal. Dan itu wajib saya syukuri.

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...