Kamis, 09 Agustus 2018

Menginap di Rumah Sakit Jiwa

Setiap ada postingan yang menayangkan tentang ODGJ (Orang Dengan Gangguan Jiwa) pasti ada saja komentar negatif. Biasanya orang yang berkomentar negatif tidak pernah merasakan rasanya hidup bersama ODGJ.

Hidup bersama ODGJ itu berat. Tidak semua orang sanggup melakukannya. Tidak semua sabar untuk menampung ODGJ. 

Kenapa saya tahu itu berat?
Karena saya pernah di rawat di RSJ. Sebab saya mengalami halusinasi yang cukup parah. Bisikan yang sangat mengganggu.

Saya awalnya berfikir bahwa saya akan dipisahkan dengan mereka yang mengalami gangguan jiwa yang berat. Ternyata tidak.

Nyatanya saya harus betah hidup bersama mereka berhari-hari. Tanpa ada yang menunggui, tanpa akses komunikasi keluar. Pure saya harus membaur disana.

Saya menginap disana selama tiga hari saja sudah rungsing mau pulang terus. Bagaimana yang setiap hari hidup dengan ODGJ.

Jujur saja, mungkin bisa depresi jika tidak punya kesabaran penuh.
Saya sedih melihat orang berjalan terus menerus sampai harus di isolasi. Saya sedih mendengar mereka berteriak kesakitan meskipun saya tidak tahu sakitnya apa.

Pada satu malam saya tinggal disana, ada seorang ibu yang tengah malam berceracau berkali-kali. Berteriak kesakitan sampai pagi. Memanggil nama mantan pasangannya berkali-kali. Fiks tidur saya tidak berkualitas malam itu. 

Keesokan paginya, si ibu dibantu suster membersihkan diri.
Sehari-hari saya disana, saya melihat banyak hal dan membuat saya bersyukur karenanya. Karena meskipun saya punya gangguan, saya masih sadar dan bisa hidup normal.
Bukan hanya bisa menangis, diam sepanjang masa atau berteriak. Saya masih normal menjalani hidup dengan segala keterbatasan saya.

Pelajaran yang bisa saya ambil adalah para ODGJ juga ingin hidup normal. Ingin di akui eksistensinya. Ingin di mengerti dan ingin sekali keberadaannya di perlakukan sama dengan orang lain.

Selain pelajaran saya juga mengalami berbagai pengalaman yang unik. Mulai dari snack yang hilang sampai deodoran dan parfum yang lenyap. Tapi puji syukur semuanya bisa kembali lagi ke saya.

Ternyata saya masih diberikan kesempatan hidup normal. Dan itu wajib saya syukuri.

8 komentar:

  1. Iya mbak, empati akan lebih dirasakan seseorang yang pernah mengalaminya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa mas tp ga harus mengalaminya jg kayaknya yaa hehe

      Hapus
  2. Hikzzz banyak bersyukur nih kita ya mbak. Sedih bacanya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iyaa harus banyak bersyukur yaa mas. Cobaan hidup beda beda

      Hapus
  3. Kok sedih y dek baca kondisi penghuni rsj. Tapi makin sedih lagi kalau ditelantarin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sedih kalau di telantarkan kak... Makin ga keurus

      Hapus
  4. sangat menginspirasi, mbak. Btw mbanya sudah sehat kan? masih suka berhalusinasi kah mba, mungkin rajin menulis bisa membantu mba, tetap semangat ^,^

    BalasHapus
    Balasan
    1. alhamdulillah sudah sehat mbak, halusinasi masih ada hanya saja ringan

      Hapus

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...