Senin, 19 Agustus 2019

Bersyukur : Mengenal Diri Sendiri

Entah kenapa aku pengen banget nulis ini. Mungkin karena aku baru saja melewati banyak sekali peristiwa yang cukup menguras emosi, keuangan, kesehatan, dan trauma lama yang harus muncul kembali.
Ketika dalam keadaan berat, tak sedikit orang yang datang kepadaku hanya untuk bilang 'kita tuh harus banyak bersyukur. Cukup itu bukan karena banyak sedikitnya harta, tapi karena hati yang bersyukur'.
Ya tau sih teorinya gitu.
Praktiknya?



Aku khawatir jika saja aku menerimanya dengan mentah maka kondisiku akan terus merosot.
Jadi ya daripada heboh kan nulis sana sini seolah aku adalah orang paling bersyukur, lebih baik aku menerima  bahwa aku memang kekurangan.
Misal gini, aku biasa makan beras shirataki terus harus ganti ke beras lokal yang kualitas paling rendah. Kaget nggak sih? Kaget!
Biasa liburan keliling Indonesia tiap bulan naik pesawat bisnis/kereta terbaik, tidur di penginapan terbaik. Eh harus terima bahwa selama dua tahun terakhir harus bisa menahan diri nggak liburan. Sekalinya liburan cuma bisa ke Bandung, naik kereta ekonomi. Dan dapat penginapan yang 'yaudah sih yang penting bisa buat tidur.' Rumahku di Bekasi ya. Bekasi - Bandung tuh ya, yaaAllah deketlah pokoknya. Dulu bisa tiap pekan ke Bandung. Atuh naha sekarang mah harus nunggu dua tahun? Kesel.
Biasa pegang uang 100 juta perbulan (terserah sumbernya darimana, mau hasil kerja, hasil usaha, dikasih suami. Pokoknya yang penting halal). Tiba-tiba cuma pegang sejuta.
Coba gimana perasaannya? Bayangin sendiri deh.
Atau pas mati lampu yang lebih dari 24 jam di jabodetabek dan sebagian Jawa. Banyak banget kan yang bilang, "hikmah mati lampu : bisa quality time bareng keluarga."
Padahal hati merana, sinyal ponsel hilang, HP mati karena batrenya lupa diisi. Kerjaan terbengkalai.
Kemudian sebuah pencitraan dimulai, merasa bahagia bisa ngobrol bareng keluarga. Alih-alih bersyukur, aku melihatnya malah kasian sekali.
Kenapa buat ngobrol aja harus mati lampu dulu? Gimana kalo kita usul aja ke PLN buat mematikan listrik ditiap akhir pekan?
Mau nggak?
Gimana?
Ideku bagus, kan?
Guys, diatas cuma contoh ya. Ntar mikirnya itu yang lagi aku alami. Terus ntar ngadu, terus ntar jadi perang dunia. Elah ribet banget hidupnya, ngurusin hidup aku mulu 藍
Pokoknya gitu yaa.
Poinnya adalah nggak semua hal yang aku alami itu harus langsung aku syukuri. Harus seolah-olah membuatku merasa baik-baik saja.
Aku berusaha menerima aja dulu kalau memang kenyataannya nggak bisa terima yaudah. Nggak maksa harus terima. Karena ya memang berat.
Menurut aku, bersyukur ya memang perlu tapi bukan berarti aku tidak berusaha, kan?
Total bersyukur harus selalu ditanamkan. Namun jangan sampai alih-alih bersyukur dengan keadaan malah membuat kita menjadi orang yang tidak mau berusaha.
Guys, aku nggak nyuruh kalian ngeluh loh ini. Aku cuma mau kalian kenal sama diri kalian sendiri. Karena semakin kenal sama diri sendiri, semakin mudah bersyukur.
Namanya manusia wajar sekali kalau mengeluh, tidak terima. Artinya kita manusia normal dan bisa merasakan berbagai macam respon dari yang kita hadapi. Dan sebenarnya kita jadi tau apa yang benar-benar kita butuhkan.
Bersyukur itu berat namun yang lebih berat adalah menerima diri sendiri.
Jadi, kalau kamu udah berusaha sekeras yang kamu mampu dan kamu mau sampai titik terakhir kesanggupan kamu. Terus yaa hasilnya tidak ada perubahan. Boleh deh tuh update status, "mau dapat rejeki banyak atau sedikit, harus tetap bersyukur."
Ikhtiar dan iman nggak maksimal, tapi minta hasil maksimal. MIMPI.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kusta, Pencegahan dan Dinamika Perawatannya

Kusta merupakan penyakit yang sudah ada sejak dulu yang disebabkan oleh kuman  Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh   Mycobacterium le...