Selasa, 31 Maret 2020

Menerima Keluarga Baru

Wow... betapa perasaan saya antara siap dan tidak siap menerima  kehadiran sosok baru dalam keluarga besar. Antara senang dan sedih, semuanya seolah bersatu dalam hati yang dipenuhi oleh prasangka buruk. Tanpa memikirkan apakah sosok baru itu akan bahagia atau justru sedih dengan takdirnya harus bergabung dengan keluarga besar. 

Saya tentu berharap sosok baru ini dapat menerima keadaan keluarga saya dengan apa adanya, namun saya tentunyu berharap lebih. Berharap bahwa ia akan menjadi sosok yang supel dan menyenangkan. Haha... betapa egoisnya saya ketika saya mengatakan itu. Bukankah ia juga berharap besar pada keluarga besar saya akan diperlakukan sebaik-baiknya.

Banyak sekali harapan yang saya sampaikan bahwa ia harus begini dan begitu. Sementara ia hanya bisa menatap saya yang sedang bicara dengan cara mendikte karena saya takut akan mendapat perlakuan begini dan begitu.

Yes, saya baru saja menerima hadirnya keluarga baru, yaitu adik ipar perempuan.

Senin, 30 Maret 2020

Dilema Online Class dan Work From Home

Bagaimana rasanya menjalani online class dan work from home selama dua minggu ini? Iya silakan menarik nafas panjang. 

Saya tau ini lumayan berat dan tidak mudah untuk semua orang. Saya tahu, bahkan ada yang merasakan ini adalah pengalaman pertamanya. Bagaimana bisa mengerjakan sesuatu dengan jalur komunikasi yang cukup jauh. Dimana biasanya mau bertanya pada atasan tinggal masuk ke ruangannya, eh sekarang harus berkoordinasi melalui gawai, kadang dibalasnya lama pula. Huh

Bagaimana rasanya sekolah atau kuliah di rumah? Rasanya susah ya? Kalau enggak ngerti bingung tanya ke siapa. Bingung ya mau cari referensi kemana, enggak tau harus tanya siapa. Kesal saat dosen atau guru cuma kasih materi betuknya ppt. Padahal jauh lebih ngerti saat dijelaskan langsung atau mendengar orang lain saling membicarakan materi yang dipelajari.


Sabtu, 21 Maret 2020

Nikmatnya BagorS (Bawang Goreng Santri)

Siapa yang tidak kenal dengan bawang goreng? Wah, kalau anda orang Indonesia pasti tau banget sama makanan satu itu. Bagaimana tidak, hampir semua masakan daerah pasti ditaburi bawang goreng diatasnya. 
Soto lamongan, pakai. Empal gentong, pakai. Sate madura, sate padang, ketoprak. Banyaklah pokoknya. Tidak ketinggalan bakso dan mie ayam. Duh, membayangkannya saja sudah ngiler.

Sesungguhnya bawang goreng menambah kenikmatan tersendiri, apalagi jika rasa bawang goreng sudah enak. Makan nasi putih ditambah taburan bawang goreng pun sangat membahagiakan dan mengenyangkan (kalau nasinya banyak).

Saya itu termasuk yang amat menyukai bawang goreng pada porsi yang pas. Misal makan bakso ditambah bawang goreng satu sedok teh lagi. Rasanya duh, bikin ngeces deh. Belakangan saya mendapatkan informasi bahwa ada salah satu pesantren tahfiz di daerah Cibubur, Jakarta Timur, namanya pondok pesantren Al Makmurriyyah menjual bawang goreng yang diproduksi oleh santri disana. Adapun keuntungan dari penjualan bawang goreng tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Sabtu, 14 Maret 2020

Mental Health? Booming Banget Sekarang!

Belakangan isu kesehatan jiwa seringkali menjadi sebuah topik yang menarik untuk diperbincangkan. Padahal, masalah kesehatan jiwa ini sudah muncul sejak lama sekali. Bisa jadi sejak nenek moyang kita masih berdiri tegak di bumi, kesehatan jiwa adalah masalah yang cukup serius untuk kelangsungan hidup banyak orang. Baik bagi yang mengalami gangguan kesehatan jiwa maupun pendampingnya.

Apakah orang-orang yang hidup pada masa yang lampau tidak mengalami masalah pada kejiwaannya? Tentu saja ada, hanya saja pada zaman dahulu tidak ada sosial media. Dimana hal itu dengan mudah mengirimkan berita atau kabar pada seluruh dunia ketika kita meng-klik tombol posting.
Zaman dulu, bertukar kabar saja lewat burung merpati.

Semakin berkembangnya zaman, isu kesehatan jiwa ini makin diperhatikan. Meskipun baru sedikit sekali yang mau memahami. Kesehatan jiwa seringkali dikaitkan dengan masalah spiritual dan supranatural. Isu ini dikaitakan dengan lemahnya iman, jauh pada Tuhan, kurang bersyukur dan sebagainya.


5 Tahun Pernikahan : Anak bukan Alasan Tunggal Kami Bahagia

Pernikahan yang terjadi di sekeliling saya secara tersirat banyak yang tujuan utamanya adalah memiliki anak. Setidaknya bagi saya hal itu di...