Senin, 30 Maret 2020

Dilema Online Class dan Work From Home

Bagaimana rasanya menjalani online class dan work from home selama dua minggu ini? Iya silakan menarik nafas panjang. 

Saya tau ini lumayan berat dan tidak mudah untuk semua orang. Saya tahu, bahkan ada yang merasakan ini adalah pengalaman pertamanya. Bagaimana bisa mengerjakan sesuatu dengan jalur komunikasi yang cukup jauh. Dimana biasanya mau bertanya pada atasan tinggal masuk ke ruangannya, eh sekarang harus berkoordinasi melalui gawai, kadang dibalasnya lama pula. Huh

Bagaimana rasanya sekolah atau kuliah di rumah? Rasanya susah ya? Kalau enggak ngerti bingung tanya ke siapa. Bingung ya mau cari referensi kemana, enggak tau harus tanya siapa. Kesal saat dosen atau guru cuma kasih materi betuknya ppt. Padahal jauh lebih ngerti saat dijelaskan langsung atau mendengar orang lain saling membicarakan materi yang dipelajari.



Jadwal kelas online, dokumen pribadi

Saya tau ini berat, tapi kan harus dijalani untuk kepentingan kita semua. Kepentingan anda, keluarga dan kita semua. Selalu ada yang pertama untuk segala sesuatu dan yang pertama menimbulkan kesan pada pertemuan selanjutnya. Maka jadikan kejadian ini sebuah kenangan yang bisa dipelajari di hari-hari selanjutnya. Bagaimana caranya kita siap dengan perkembangan zaman.

Bagi saya yang sudah bertahun-tahun menjalani work from everywhere, ini tidak terlalu berat. Urusan koordinasi dan komunikasi bisa dijalani dengan baik, alhamdulillah. Bagi saya yang sudah menjalani online class, belajar online, rapat online, ujian online, semuanyaaaa online. Membuat hidup saya lebih mudah. Tapi apa menurut anda saya tidak tersiksa?

Sama, saya juga tersiksa dengan kondisi ini. Bagi saya yang suka sekali travelling, suka sekali menikmati makanan yang berbeda dari masakan rumah, ini suatu yang berat untuk saya.
Apalagi saya tau, ketika saya lelah saya harus menenangkan pikiran dengan cara jalan-jalan berkeliling naik sepeda motor, ini tidak biasa.
Maka, tolong berhenti bilang, "ahh Resty mah enak-enak aja, kalau saya jadi kamu juga sangguplah, gini doang."
Serius, masalah ini tidak sesederhana itu.

Saya tau, hampir semua orang bersyukur sekaligus mengeluh. 

Menggambar api, dokumen pribadi



Bagaimana akhirnya dosen atau guru mengeluh karena ketika beliau mengisi kelas ternyata yang merespon hanya beberapa orang. Bagaimana akhirnya beliau berupaya sebisa mungkin membuat video yang menunjang pembelajaran dan bagaimana akhirnya beliau menerima belajar menggunakan teknologi yang tidak biasa digunakan. Bagaimana akhirnya, seorang guru atau dosen yang biasanya memberikan pelajaran kepada siswanya harus berjuang agar anak-anak yang tengah ia didik tetap mendapatkan materi sesuai kurikulum yang diberikan. Serta bagaimana lainnya yang tidak akan cukup dituliskan disini.

Saya juga berusaha tau bagaimana rasanya ibu dengan beberapa anak secara bersama-sama harus tinggal di rumah pada waktu yang sama. Dimana biasanya anak-anak ini berada di sekolah dari pagi sampai sore hari. Bagaimana akhirnya sang ibu sibuk menyiapkan makanan dan cemilan untuk anak-anak. Bagaimana akhirnya si ibu harus mengelola stress karena anak-anak bertengkar lebih sering dari biasanya.

Saya, akhirnya tau betul bagaimana para siswa dan mahasiwa harus belajar dengan cepat dan tidak berjeda. Bagaimana rasanya jari-jari terasa kebas karena menyelesaikan banyak sekali tugas yang diberikan. Tugas yang banyak atau manajemen waktu yang buruk? Silakan jawab sendiri.

Saya tau, ini berat untuk kita semua. Mari kita berjuang.

Jika anda merasa tugas yang diberikan untuk anda atau anak-anak anda begitu berat, silakan adu data. Silakan bandingkan dengan keadaan  yang biasanya terjadi. Berapa tugas yang diberikan kepada anda ketika terjadi pertemuan tatap muka dengan saat online class sekarang ini. Bandingkan dengan realistis.

Kalau saja dosen atau guru sudah menjelaskan kepada anda tapi anda belum juga mengerti, silakan baca berulang. Jika belum mengerti juga, buka google dan cari jawaban anda dari berbagai referensi disana. Masih enggak ngerti juga? Buka youtube dan berusahalah untuk mencari berbagai referensi. Kalau belum mengerti juga? tanya teman yang dirasa lebih mengerti. Teman masih tidak mengerti juga, tanya dosen atau guru. 
Kalau anda mau langsung tanya dosen atau guru juga tidak masalah, tapi tunjukanlah bahwa sebelum bertanya anda sudah berusaha. 

Oh iya, hampir ketinggalan. Bagi bapak-bapak yang work from home, gimana rasanya kerja sambil dengar anak menangis pak? Bagaimana pak rasanya 24 jam sama anak selama hampir dua minggu? Masih mau meremehkan istrinya pak? Iya, silakan pak dijawab sendiri.

Saat ini, semua harus saling menolong terutama antar anggota keluarga. Saya tau, kemampuan kita berbeda. Tapi, tolong untuk jangan pernah lelah untuk belajar. Jangan mau kalah dengan anak-anak yang masih kecil.

Adik saya dua orang yang masih sekolah. Yang satu kelas 4 SD dan satunya TK kecil. Apa keduanya bisa menyelesaikan tugas dengan baik? Untuk yang kelas4 SD, sejauh ini bisa. Untuk yang TK moodnya suka menurun sehingga malas menyelesaikan beberapa tugas, tapi buat saya tidak masalah toh dia baru empat tahun.


Tugas anak TK, dokumen pribadi

Apakah adik saya yang SD tidak pernah mengeluh? Oh jangan salah, pertama kali diberikan tugas dia nangis-nangis karena katanya kok banyak amat. Setelah dikerjakan ternyata hanya dua halaman dan selesai dalam waktu dua jam. Kemudian ia sadar, bahwa belajar di rumah itu menyenangkan.

Mereka -kedua adik saya-, cukup kreatif dalam menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya. Bagi yang SD, mengerjakan tugas bahasa Inggris cukup berat, tapi dia bisa cari di google dan menonton youtube. Begitu pula bagi yang masih TK, berulang kali ia mencari video surat-surat pendek dalam Al Qur'an melalui youtube.
Kalian yang sudah jadi mahasiswa, jangan kalah ya.

Mari kita berpegangan tangan untuk saling menguatkan. Semoga pandemi ini segera berakhir dan kita bisa beraktivitas seperti biasanya.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...