Selasa, 31 Maret 2020

Menerima Keluarga Baru

Wow... betapa perasaan saya antara siap dan tidak siap menerima  kehadiran sosok baru dalam keluarga besar. Antara senang dan sedih, semuanya seolah bersatu dalam hati yang dipenuhi oleh prasangka buruk. Tanpa memikirkan apakah sosok baru itu akan bahagia atau justru sedih dengan takdirnya harus bergabung dengan keluarga besar. 

Saya tentu berharap sosok baru ini dapat menerima keadaan keluarga saya dengan apa adanya, namun saya tentunyu berharap lebih. Berharap bahwa ia akan menjadi sosok yang supel dan menyenangkan. Haha... betapa egoisnya saya ketika saya mengatakan itu. Bukankah ia juga berharap besar pada keluarga besar saya akan diperlakukan sebaik-baiknya.

Banyak sekali harapan yang saya sampaikan bahwa ia harus begini dan begitu. Sementara ia hanya bisa menatap saya yang sedang bicara dengan cara mendikte karena saya takut akan mendapat perlakuan begini dan begitu.

Yes, saya baru saja menerima hadirnya keluarga baru, yaitu adik ipar perempuan.

Jika orang bilang pernikahan adalah gerbang ibadah yang penuh kesenangan, mungkin bisa ditinjau ulang. Apakah pernikahan itu akan bahagia atau malah membuat luka. Saya tentu tidak tau secara pasti bagaimana keadaan rumah tangga orang lain, bukan urusan saya. Kecuali mereka meminta saya untuk membantu mereka, jika tidak, bodo amat.


Bagi saya, setiap orang punya privasi yang tidak boleh dilewati oleh siapapun, sedekat apapun. Jadi, mari saling menghormati satu sama lain.

Lalu apakah saya akan ikut campur dengan masalah rumah tangga adik saya? Ya enggaklah, kecuali mereka minta tolong dan memang urgent bahwa saya harus menolong mereka. Mereka sudah punya kehidupan sendiri dan saya sebagai orang luar kehidupan rumah tangga mereka hanya bisa menonton kelakuan mereka.

Bagi saya, apapun yang mereka lakukan adalah tanggungjawab mereka yang saya hanya bisa sekadar mengingatkan. Meskipun saya tau kalau saya ini lebih tua, dan saya tau mereka ada kekurangan. Sungguh bukan ranah saya ikut campur dalam urusan mereka.

Kehidupan sungguh penuh dengan dinamika, begitu pun dengan rumah tangga. Sebagai seorang yang lebih tua, udah pastilah itu rasa sok tau selalu muncul. Tapi bagaimana mengolah semuanya menjadi baik kan tidak mudah juga. Wajar banget kok berbeda pendapat dan berbeda pandangan hidup, Tidak apa-apa.

Berkaca pada pengalaman saya, ketika saya salah tidak ada yang menegur malah mengadu domba. Beneran, sumpah, itu rasanya sakit banget. Mereka enggak tau apa yang sebenarnya terjadi, tapi terus berasumsi dan menjatuhkan satu pihak, yaitu  saya. Sementara, mereka semua selalu mendengar dari pihak sebelah. Sampai saat ini, hanya satu orang yang bertanya dari sekian banyak yang menghujat dan sudah menganggap saya begitu negatif.

Sementara saat itu saya sudah tidak mungkin bicara apapun karena mereka akan menganggap bahwa saya hanya sedang melakukan pembelaan. Wow, mereka pandai sekali playing victimnya.
Mereka yang bersalah, tapi seolah saya yang paling berdosa. Bahkan saya pernah dikatain dengan kata-kata yang amat kasar.

Maka, saya tidak mau semua itu terulang kembali. Saya tidak mau luka yang saya rasakan harus saya sebarkan kepada adik-adik saya. Mereka berhak bahagia tapi saya berhak bertanya dan menegur. Jika saya melihat ada yang aneh dari mereka, saya akan langsung bertanya. Sebenarnya ada apa, butuh bantuan enggak. Jika mereka bisa menyelesaikan sendiri dipersilakan tentu dengan sedikit saran.

Saat ini, saya berupaya mendekat. Salah satunya saya sering minta tolong pada adik ipar saya mengunjungi orangtua saya saat saya tidak  bisa kesana. Saya sampaikan melalui komunikasi yang efektif, bukannya saya malah menghujat dan membicarakan dibelakang. Sehingga dalam meminta tolong dan sebagainya menjadi lebih mudah. Tidak ada batasan dan sebagainya.

Jangan sampai kami saling menganggap satu sama lain adalah benalu yang hanya mengganggu. NO! Semua bisa dikomunikasikan dan diselesaikan dengan baik.

Yhaa, emang kalau bicara dalam hati orang lain bisa dengar? Enggak akan bisa dong.

Jadi, stop prasangka dan perbaiki komunikasi.

1 komentar:

  1. Rest, aku belum pernah nih punya adik ipar perempuan dr sisi aku
    I mean aku kan gak punya sodara laki2
    Moga2 rukun2 rest dan saling sayang jg hormat y aamiin

    BalasHapus

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...