Kamis, 14 Mei 2020

Berutang itu Boleh

Sejak awal menikah, saya tidak pernah bermasalah dengan keuangan keluarga. Masih bisa bayar sewa rumah, masih bisa liburan tipis-tipis. Bisa memilih mau makan apapun. Semua berjalan dengan sangat membahagiakan sampai suatu hari ada tekanan untuk mengambil KPR. Wow... Alasannya karena rumah yang akan dijual dekat dengan rumah mertua saya. 

Hal yang paling menyedihkan untuk saya dan suami pada saat itu adalah kami sudah berkomitmen untuk tidak memiliki utang. Selain faktor agama, ada hal-hal lain yang menjadi pertimbangan hingga akhirnya kami berani memutuskan hal tersebut. Tentu melanggar apa yang telah kami sepakati adalah hal yang sangat menyakitkan. Padahal, saya merasa kebahagiaan saya sudah cukup baik saat itu. 




Saya memang sudah lelah dengan segala pinjaman, segala utang yang panjang. Karena apa? Saya capek banget lihat tagihan-tagihan utang, risih dengan adanya debt collector datang ke rumah, dan saya sedih harus melewatkan hari-hari tanpa travelling  karena harus melunasi berbagai tagihan. Hal yang paling saya ingat adalah cerita teman-teman saya yang bilang mereka terima gaji pukul 10.00 WIB, pukul 10.30 WIB uangnya sudah habis. Kenapa sih kerja capek-capek satu bulan habisnya cuma 30 menit.

Jujur, saya tidak mau hidup dalam ketakutan. Takut untuk liburan karena mikir banget ini uangnya cukup enggak ya untuk kebutuhan sehari-hari. Takut kalau habis liburan enggak bisa makan. Takut kalau lagi jalan-jalan ke mall terus makan enak ketemu debt collector kemudian dia bilang, "enak nih bisa makan mahal, cicilan jangan ditunda terus dong." Serta ketakutan-ketakutan lainnya.

Apakah berutang tidak boleh? Ya terserah anda, ya. Tergantung utangnya untuk apa, apakah untuk hal-hal mendesak atau sekadar lifestyle. Apakah kalau anda tidak berutang nyawa anda akan terancam? Jangan sampai kita hidup menderita hanya karena menuruti keinginan-keinginan yang sebenarnya bisa ditunda. Apalagi kita rela berutang hanya karena gengsi. Jangan, capek. Menuruti gengsi bahagianya paling lama 3 bulan doang. Bayar cicilan mobil bisa sampai 3 tahun. Apakah anda siap 33 bulan anda hanya akan ada penyesalan? 

Mau ambil KPR dimana? Cicilan berapa persen dari gaji? Jarak dari calon rumah ke kantor berapa lama? Berapa banyak waktu yang dibuang dijalan? Berapa banyak bensin yang dikeluarkan? Fasilitas apa saja yang ada disekitar calon rumah? Apakah dekat dengan rumah sakit, sekolah, dan fasilitas umum lainnya? Berapa kesenangan yang harus ditunda? 

KPR ini jangka waktunya lama sekali, bisa sampai 20 tahun. Jika anda mengambil KPR di usia 30 tahun, apakah anda rela menghabiskan sisa waktu anda sampai dengan pensiun menunda kesenangan? Apakah anda yakin bahwa anda akan tetap hidup diusia 50 tahun lebih sehari? Apakah anda yakin selama 20 tahun pendapatan anda akan baik-baik saja? Apakah anda rela mengeluarkan uang dengan total 900jutaan (hingga KPR lunas, 20 tahun)  dengan harga rumah yang saat ini cuma 200jutaan?

Kalau mau ambil kredit kendaraan, ya contohnya mobil deh. Sepenting apa punya mobil? Apakah tidak bisa beli mobil second saja dengan uang yang ada? Mobil akan digunakan untuk apa? Untuk kepentingan bisnis atau sekadar menarik perhatian lawan jenis? Apa tidak ada alternatif kendaraan? Misal transportasi umum. Apakah biaya perawatannya bisa di cover dari penghasilan yang diterima? Apakah saat memutuskan untuk membeli mobil sudah menghitung estimasi dana yang akan dikeluarkan untuk beli bahan bakar? 

Jika beralasan mobil akan digunakan untuk pergi ke acara-acara keluarga, memang keluarga kalian itu sebesar apa? Apakah tidak memungkinkan ditempuh dengan kendaraan umum atau motor? Apakah tidak bisa naik taksi online? Kalau bilang sayang uangnya kalau untuk naik taksi online, memang naik taksi online sebulan berapa kali? Jika memang untuk keluarga, apakah kamu akan menepati janjimu? Apakah tidak akan tergoda pergi bersama pacar saja?

Ini saya bilang sama teman-teman yang gajinya pas buat makan aja tapi banyak gaya terlalu memaksakan diri. Padahal pergi bisa pakai motor dan udah punya motor, terus motornya udah jadi milik pribadi.

Anda kenapa sih, suka cari susah buat diri sendiri?

Berutang tidak apa-apa selama bisa dipastikan semua kebutuhan pokok terpenuhi. Selama biaya sekolah anak aman-aman saja. Selama biaya kesehatan/rumah sakit sudah tersedia budgetnya. Selama istri, anak dan orangtua tidak hidup dalam kesulitan. 

Dunia ini penuh pilihan, tidak memilih adalah sebuah pilihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...