Selasa, 22 Desember 2020

Opini : Saya Tidak Percaya bahwa Ada Rumah Sakit Meng-Covid-kan Pasien

Pertama, saya menulis ini karena saya bingung dengan pendapat beberapa orang yang mengatakan bahwa ada rumah sakit yang mengcovidkan pasien. Karena mereka bicara tanpa ada bukti apapun, tidak menyebut nama rumah sakit yang dimaksud dan seringkali ketika ditanya informasinya dari mana, mereka tidak bisa menjawab dengan lugas. Selalu katanya, katanya.

Kedua, hampir satu tahun ini saya bolak-balik ke berbagai rumah sakit dan tentu saja bertemu dengan banyak dokter beserta tenaga kesehatan lainnya, perawat, fisioterapis, petugas lab (apa sih namanya, pokoknya itulah ya), bertemu juga dengan ahli gizi dan apoteker. Serta petugas rumah sakit lainnya. 

Resty Afika


Selama hampir satu tahun ini saya tidak pernah sekalipun diminta untuk tanda tangan surat yang katanya persetujuan di-covidkan. Tentu saja karena rumah sakit yang saya kunjungi tidak pernah sekalipun menyodorkan hal tersebut baik kepada saya ataupun keluarga saya.

Karena terlalu sering bolak-balik rumah sakit, petugas yang sering melakukan skrining di depan pintu masuk sampai enggak perlu nanya nama lagi, cuma ditanya mau ketemu dokter siapa (lagi) bu? Sampai malu karena sampai dihapal, da atuh da, meuni ihh. Terkenal karena prestasi kan enak, ini terkenal karena sakit asa kumaha kitu ya. 

Entah kenapa saya berasumsi ketika seseorang diminta skrining, mereka menganggap bahwa rumah sakit sedang mengcovidkan pasien. Mungkin mereka tidak tahu tata laksana bagaimana sampai akhirnya seseorang dinyatakan positif Covid-19. Jika pun ada rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya melakukan itu, yuk buka data, nama fasilitasnya apa, nama dokter dan perawat, jangan lupa sertakan bukti yang valid. Supaya bisa diusut sampai ke akar-akarnya. Jadi bukan katanya dan katanya, tapi tidak ada data valid.

Sebelum operasi pada Oktober lalu, saya juga diminta untuk melakukan swab PCR. Setelah itu, saya diminta untuk isolasi di ruang isolasi bertekanan negatif di rumah sakit tersebut. Apakah dengan saya masuk ruang isolasi artinya saya dicovidkan? Jelas nggak! Karena ketika hasil swab PCR keluar, saya langsung dipindah ke ruang rawat inap biasa. 

Kalau ada yang merasa, kasihan ya diisolasi dan tidak ada yang menunggu. Percayalah, perawat dan dokter di rumah sakit standby 24 jam untuk semua pasiennya. Khawatir dengan keluarga yang sedang diisolasi boleh, tapi suudzon jangan dong.

Bahkan bulan lalu, November 2020. Saya datang ke rumah sakit dengan keluhan demam lebih dari 39, kesulitan menelan, sakit tenggorokan, disertai juga dengan mual muntah. Tidak pernah sekalipun saya mendengar ada tenaga medis, baik dokter atau perawat yang bilang "udahlah ibu tanda tangan persetujuan di covidkan saja." Nggak pernah sekalipun.

Kalau diminta melakukan skrining Covid-19, betul. Tapi skrining Covid-19 bukan berarti dicovidkan. Skrining kan dilakukan untuk mengetahui apakah seseorang terkena Covid-19 atau enggak. Kalau ada yang menganggap permintaan skrining Covid-19 adalah proses meng-Covidkan pasien ya berarti ada yang salah dengan bagaimana ia berpikir.

Jika ada yang bilang, rumah sakit bikin permainan supaya dapat dana dari pemerintah sekian juta. Itu kan ada regulasinya juga, enggak sembarangan pemerintah langsung mengucurkan dana sebesar itu. Harus ada bukti-bukti valid terkait kondisi pasien dari rumah sakit ke Kemenkes.

Bhaique, sebelum makin panjang saya cerita deh gimana prosedur kalau mau berobat ke rumah sakit, baik rawat inap, operasi, ataupun rawat jalan.


Prosedur Jika Rawat Jalan

Di depan pintu masuk Anda akan dicegat oleh petugas, entah itu satpam atau perawat atau siapapun yang lagi tugas disana. Kenapa dicegat? Yang pasti suhu Anda akan dicek, kemudian ditanya ada kehilangan indra penciuman dan perasa enggak, ada sakit tenggorokan enggak, batuk, pilek dan lainnya yang dicurigai sebagai tanda awal Covid-19. Selain itu juga ditanya beberapa pertanyaan lainnya.

Kalau suhunya bagus, bisa langsung masuk ke rumah sakit dan melakukan serangkaian proses dari pendaftaran sampai bisa konsultasi dengan dokter yang dituju. 


Prosedur Jika Rawat Inap atau Operasi

Masuk rumah sakit seperti kalau mau rawat jalan. Misal masuk IGD, nanti dokter atau perawat akan menjelaskan serangkaian proses skrining Covid-19 yang telah ditetapkan rumah sakit. Kalau saya, diminta rapid test serology dan CT Thorax. 

Jika hasil rapid test non reaktif dan CT Thorax bagus, bisa langsung masuk ruang rawat inap. Kalau hasil rapid test reaktif atau CT Thorax ada kesan mengarah Covid-19 maka bisa jadi diminta swab PCR. Sambil menunggu hasil swab PCR, pasien akan diminta menunggu hasil sambil dirawat di ruang isolasi bertekanan negatif.

Karena swab PCR butuh waktu, maka biasanya sambil menunggu hasil, Anda akan dtempatkan di ruang isolasi bertekanan negatif. Which is, Anda akan berada di ruangan dengan petugas ber-APD lengkap. Jika Anda diminta sabar menunggu hasil swab PCR dengan ditempatkan di ruang tersebut, bukan berarti rumah sakit atau dokter dan tenaga medis sedang meng-Covid-kan Anda. Namun yang mereka lakukan adalah upaya meminimalisir adanya penularan virus. Jika hasil swab PCR sudah keluar dan dinyatakan negatif, maka akan dipindah ke ruang rawat inap biasa atau sesuai kebutuhan, entah itu ICU, HCU, dan atau lainnya.


Entah kenapa saya juga tidak percaya saat ada yang bilang bahwa ada orang tertentu yang dipaksa menandatangani surat persetujuan. Bahkan saat saya mengalami demam dengan suhu >39, tidak ada satu kalipun diminta tandatangan hal tersebut. Jika pun diminta tanda tangan, maka yang dimaksud adalah terkait pengajuan ke asuransi.

Ketika saya masuk ICU pun tidak ada pemaksaan untuk menandatangani persetujuan bahwa jika saya meninggal akan dimakamkan dengan prosedur Covid-19.

Jika pun saya mendengar adanya prosedur rawat inap atau pemakaman dengan prosedur Covid, sudah pasti hasil skrining Covid-19 ada gejala mengarah ke arah Covid. Sedang dalam masa menunggu hasil swab PCR sehingga harus di isolasi sementara waktu. Tapi ketika masih menunggu hasil, pasien lebih dulu dipanggil oleh Allah.


Jadi, saya benaran penasaran banget sama yang suka bilang 'permainan' rumah sakit, apakah benar-benar mengalami atau hanya katanya-katanya?

Jika memang benar ada rumah sakit atau oknum dokter melakukan 'permainan', kenapa tidak ada bukti yang valid dan tidak ada jawaban yang tegas, kadang bahkan berubah-ubah?

Kalau memang benar, kenapa tidak langsung lapor Kemenkes saja?


2 komentar:

Kusta, Pencegahan dan Dinamika Perawatannya

Kusta merupakan penyakit yang sudah ada sejak dulu yang disebabkan oleh kuman  Kusta adalah penyakit yang disebabkan oleh   Mycobacterium le...