Jumat, 19 Februari 2021

Bersyukurlah Jika Istri Bau Bawang

Judul artikel yang kali ini saya posting agak terkesan sedikit nyeleneh ya. Bagaimana tidak, kok istri bau bawang malah disuruh bersyukur.  Pasti enggak bener nih. Istri kan harusnya harum, bersih dan selalu dandan depan suami.

Nah, pendapat itu menurut siapa sih? Karena, bagi saya ketika kita sepakat atas suatu pendapat, kita harus tahu semua konsekuensinya. Karena biar bagaimana pun, Allah memberikan otak untuk berpikir dan iman untuk menjalankan agama-Nya.

Coba deh tanya sama istri-istri yang hampir setiap suaminya pulang kerja tapi masih sibuk urusan dapur. Masak belum selesai, cucian piring masih menumpuk, atau bahkan sayur aja baru dipotong-potong. Saya berkaca pada banyak pengalaman orang lain. Beberapa ada yang cerita langsung ke saya atau beberapa postingan di berbagai sosial media.




Jujur, saya sedih banget bacanya. Karena, suami saya enggak seperti itu. Saat ini, beliau adalah salah satu orang yang paling menghargai semua keputusan saya. Tapi saya percaya bahwa tidak semua laki-laki seperti suami saya. Suami yang enggak repot istrinya harus masak. Karena voucher makan gratis adalah jalan ninja menyediakan makanan enak buat suami dari berbagai restoran.

Saya yakin banget, sebenarnya para istri itu mau dandan cantik, mau harum sepanjang hari, mau badannya terawat paripurna. Tentu aja mau suami betah di rumah karena pandangannya tidak teralihkan karena kecantikan istrinya. Mereka bukan tidak mau merawat diri, tapi bagi mereka ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk suami dan anaknya.

Satu hal yang akhirnya saya garisbawahi, mengapa suami memaksa istri harus begitu dan begini padahal ia sendiri tidak memberikan sesuatu yang lebih? Mengapa akhirnya para suami silau dengan kecantikan wanita-wanita di luar rumah?

Bagi saya, melihat terlalu banyak tuntutan tersebut seperti menonton film komedi tapi malah sedih. Kenapa? Karena akhirnya banyak sekali suami yang tidak sadar dengan apa yang mereka lakukan terhadap pasangannya. Saya tahu betul, tidak semua orang mempunyai penghasilan yang fantastis, maka jika tahu bahwa tidak mungkin menjadikan istri berpenampilan seperti perempuan lain tetaplah  tidak elok.

Jika semua pekerjaan rumah wajib dikerjakan oleh istri, termasuk di dalamnya mengurus anak dan memasak. Belum lagi menyapu, mengepel, dan seterusnya. Jujur, capek banget saya tuh mengerjakan semua itu. Masalah capek dan pahala bagi saya adalah dua hal yang berbeda. Kalau capek ya jujur aja, emang capek kan? Pahala kan urusan malaikat bagaimana para malaikat mencatat kebaikan kita. Namun, apakah iya jika kita mengerjakan dengan hati yang kesal akan tetap lebih banyak catatan pahala dari pada catatan dosanya?

Saya tentu setuju, bahwa pria adalah makhluk visual yang butuh pemandangan indah didepan matanya. Tapi, apakah ia mampu memberikan sesuatu untuk memperindah pemandangan didepannya. Dalam konteks ini istri ya, tentu saja. Jika para suami mau istrinya cantik selalu, coba cek seberapa berat pekerjaan rumah tangganya? Coba tanya jam berapa istri sempat untuk makan siang? Bisa jadi loh, istri ini sampai lupa makan siang karena sibuk banget dengan urusan domestik dan menjaga anak yang sedang aktif belajar berjalan.

Selalu ada kesempatan menyalahkan orang lain, tapi coba lihat ke dalam diri sendiri kenapa saya bisa menemukan kesalahan orang lain tapi saya tidak tau apa yang salah dari diri saya.

Kalau saya, bangga banget sama istri yang semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri sampai mengasuh anak pun harus dengan tangan sendiri. Buat saya, harusnya para suami tuh bersyukur istrinya masih bau bawang karena bagaimanapun lelahnya, ia masih menyempatkan memasak. Bahkan berusaha sekeras mungkin memberikan makanan yang bergizi untuk keluarganya.

Tidakkah kerja keras tersebut membutuhkan apresiasi yang luar biasa? Bagi yang tidak suka masak seperti saya, memasak adalah pekerjaan yang sangat berat. Jika saja para istri mogok masak karena berulang kali dibilang bau bawang, siap-siap aja ada budget tambahan buat beli makanan di luar hehehe.

Kalau istri orang lebih terlihat menarik daripada istri Anda. Coba tanya suaminya, "berapa rupiah yang kamu keluarkan untuk istrimu sehingga terlihat lebih cantik?"


Matre? Biar. Cantik memang butuh modal kok. Biar bagaimana pun, tepung terigu tidak bisa menggantikan bedak sebagai riasan wajah. Cantik enggak, gatal sewajah-wajah iya.

Beda halnya ketika suami sudah memberikan kelonggaran, baik secara materi atau tersedianya support system. Namun perlu dikaji lagi mengapa istri tidak sempat berdandan. Intinya, semua hal harus di komunikasikan. Rumah tangga yang berhasil bukan rumah tangga tanpa konflik tapi bagaimana konflik tersebut menjadikan setiap anggota keluarga semakin baik.

Sejatinya, pernikahan adalah proses saling menuntun bukan saling menuntut.


Love,


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...