Sabtu, 11 September 2021

Sadar Financial : Capek sama Utang

Kadang, kalau dengar pembahasan finansial berat banget rasanya. Karena banyak yang berpendapat bahwa masalah keuangan adalah urusan pribadi. Benar kok. Namun enggak jarang antar suami istri pun ada hal yang seolah disembunyikan.

Membahas masalah keuangan terkadang menjadi sesuatu yang aku hindari. Bukan karena aku tidak memiliki masalah tersebut tapi karena masalahnya banyak banget. Kalau udah mulai agak-agak nyerempet bahas uang, langsung berusaha mengalihkan topik pembicaraan.




Seperti yang sudah aku tulis di postingan ini tentang bapakku. Hal tersebut tentu menjadi ketakutan tersendiri bagiku. Sehingga aku menemukan satu prinsip hidup baru yang harus aku pegang teguh. Salah satu prinsip tersebut adalah terkait finansial, yaitu tidak mau berutang kalau tidak urgent, misalpun urgent harus dipertimbangkan lagi seberapa pentingnya berutang. Tidak ada yang salah dengan utang. Karena secara agama dan negara pun ada ketentuan yang berlaku. Satu hal yang aku yakini dengan sangat, bahwa utang itu bersifat abadi. Akan ditagih hingga kapanpun. Bahkan saat kita mau masuk pintu surga.

Ketika aku masih duduk di bangku sekolah dasar, rumah kontrakan yang aku beserta keluargaku tinggali pernah kedatangan debt collector. Tujuannya jelas, menagih utang mama dan bapakku. Tidak hanya sekali, tapi beberapa kali hingga aku malu rasanya.

Pernah juga saat sedang berlibur di rumah bude (kakaknya mama), ada debt collector yang menagih sejumlah uang kepada pakde. Aku juga pernah diajak jalan-jalan sore sama pakde-ku itu. Namanya anak kecil ya, pasti minta dibelikan ini itu. Terus pakde jawab, "pakde enggak punya uang, uangnya udah habis buat bayar utang." Ternyata aku diajak jalan-jalan ke rumah rentenir gais hehe. Sampai hari ini pun pakde masih dikejar-kejar rentenir terus. Apa dia tidak kapok heuh... 

Oh iya, berbeda dengan bude yang satu lagi. Sejauh ini aku enggak pernah dengar beliau punya utang. Hidupnya adem ayem sampai sekarang, tenang banget kalau dari sisi ekonomi. Anak-anaknya sukses semua dibidangnya masing-masing. Seumur-umur aku enggak pernah dengar beliau enggak punya uang kalau untuk sekadar makan. Kadang bilang enggak punya uang, tau-tau beli rumah, tau-tau motor baru. Waktu kecil kalau aku ke rumahnya, pas mau pulang pasti dibilang gini, "Bude lagi nggak punya duit res, nih buat jajan." Tetap aja bisa kasih tambahan uang jajan. Mantaplaaa pokoknya.

Adikku juga, udahlah masih kecil, bikin ulah pula. Pinjaman online sana sini, ada masanya debt collector datang tiada henti. Malu udah enggak di rasa lagi. Jadi, dia itu awalnya punya pinjaman online di satu aplikasi, enggak bisa bayar malah pinjam lagi dari aplikasi lain. Belum lagi punya cicilan motor enggak patuh sama pembayarannya karena uangnya kurang terus. Bahkan, pernah ya dia pakai identitasku untuk melakukan pinjaman online dengan janji manis dia akan bayar tepat waktu, sampai sekarang enggak dibayar juga itu utangnya huhu. Sumpah, ndasku ngelu buanget. Karena pakai namaku, ya aku harus menyelesaikan pembayarannya daripada kena blacklist di Bank Indonesia.

Senada dengan pendapatku, suamiku pun berprinsip demikian. Kalau aku ngomongin riba, khususnya di keluarga, enggak jarang aku dibilang sok suci. Yaudahlah biarin, toh aku emang lebih mengerti kondisi keuangan keluarga kecilku. 

Sederet peristiwa tersebut yang akhirnya punya kesan tersendiri bagiku. Sebenarnya cukup membuat trauma, makanya aku tidak mau terulang. Belum lagi ada beberapa teman yang cerita harus kehilangan rumah ataupun kendaraan yang sudah dibayar cicilannya selama beberapa tahun, dan harus lepas awal pandemi lalu karena ketidakstabilan ekonomi keluarganya.

Cerita kredit yang gagal bayar banyak aku dengar sejak awal pandemi. Salah satu faktornya karena adanya pengurangan jam kerja yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap penghasilan yang diterima. Banyak sekali teman saya yang ketika mengajukan kredit di bank melakukan kebohongan dengan menaikkan jumlah penghasilan pokok yang diminta dengan jumlah tertentu yang membuat kredit dapat disetujui.

Peraturan tentang kredit telah diatur melalui peraturan perbankan. Dalam agama pun sudah dijelaskan hukum utang piutang. Hanya saja kita perlu memahami konsekuensi yang timbul karena adanya utang piutang tersebut.

Akumulasi peristiwa yang aku lihat sejak kecil hingga hari ini membuatku sadar akan satu hal. Betapa nikmatnya hidup tanpa utang. Sehingga aku akhirnya bertekad untuk menghindari utang, apalagi utang jangka panjang. Udahlah nabung aja. Bismillah dimudahkan. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menjadi Manusia dengan Rasa

Saya sadar dan tahu bahwa kita semua memang terlahir sebagai manusia yang suci dan tidak tahu apa-apa. Layaknya manusia baru pasti tidak men...