Selasa, 21 Juni 2022

5 Tahun Pernikahan : Anak bukan Alasan Tunggal Kami Bahagia

Pernikahan yang terjadi di sekeliling saya secara tersirat banyak yang tujuan utamanya adalah memiliki anak. Setidaknya bagi saya hal itu ditandai dengan adanya pertanyaan "udah punya anak berapa?" pada setiap pertemuan yang sudah lama tidak terjadi. Hal tersebut tidak bisa dikatakan salah karena meneruskan keturunan adalah keinginan banyak orang. Bukan semata-mata keinginan tapi banyak juga karena memang salah satu tujuannya adalah hal tersebut.



Tidak salah dengan adanya standar tersebut. Menikah dan punya anak merupakan hal yang spesial. Belakangan saya baru menyadari bahwa hamil, melahirkan dan mengurus anak bukan semata bertambah tanggung jawab, bertambah biaya yang dikeluarkan untuk hidup, tapi juga merupakan privilage. Kenapa saya bisa mengatakan demikian? Karena ternyata tidak semua perempuan diberikan kesempatan untuk hamil dan tidak semua pria memiliki kesempatan untuk punya sperma yang berkualitas.

Di awal pernikahan, saya memang begitu keras berusaha untuk memiliki anak. Segala upaya saya lakukan dan tentu saja tidak sedikit pengorbanan saya lakukan. Nyatanya perjuangan untuk memiliki anak tidak pernah semudah itu. Oh iya, mungkin tidak semua orang mengetahui bahwa punya anak itu privilage  hingga saya menyadari setelah berjuang cukup panjang dan merasa sendirian. Hingga akhirnya, saya memutuskan "oke cukup"

Saya tidak pernah menyerah untuk berusaha namun rasanya ada saat lelah sekali untuk berjuang. Banyak waktu saya merasa sendirian karena nyatanya dalam berbagai pemeriksaan, lebih banyak pemeriksaan yang dilakukan pada saya, karena saya perempuan tentu saja. Sementara suami hanya melakukan analisis sperma, dan lalu kami menyerah seketika saat itu juga. Langkah kaki rasanya patah, hingga tak sanggup menyangga badan untuk berdiri.

Dalam episode-episode patah hati tersebut, saya merasakan banyak hal yang harus di syukuri, hal yang selalu bisa saya nikmati dan berbagai hikmah yang dapat saya ambil. Bukan berarti saya menerima hidup dalam kesepian. Rumah kami tentu sepi karena tidak ada suara bayi, tidak ada pertengkaran anak-anak dan yang paling penting tidak ada pemakluman bagi saya yang kerja, kuliah dan melakukan proses kreatif  di rumah dari para tetangga saat saya dikejar deadline. 
"Ngapain sih di rumah terus? Nggak ada anak betah banget di dalam ga keluar rumah"

Patah hati saya bukan perkara tidak ada anak dalam pernikahan ini. Urusan anak InsyaaAllah kami legowo, kami nrimo. Kalau itu memang sudah skenarionya gusti Allah saya taat. Patah hati saya lebih karena saya dianggap tidak berusaha mendapatkan pelita hati.

Setahun belakangan, saya menyadari bahwa belum memiliki anak di usia pernikahan ke-lima bukan hal yang buruk juga. Mengingat saya menikah tanpa pacaran tapi bukan taaruf juga. Beruntungnya saya memiliki pasangan yang juga memiliki banyak persamaan sudut pandang dalam memaknai hidup sehingga setiap harinya ngobrol kami menjadi seru.

Saya tentu saja tidak bisa membayangkan, jika saya memiliki pasangan yang nggak asyik diajak ngobrol, mungkin saya akan hidup dan mati dalam kesepian. MasyaaAllah tabarakallah, Alhamdulillah saya diberikan suami yang mau maju bersama. Kami sama-sama tahu kapan waktunya bergerak dan kapan waktunya berhenti. Kami siap untuk bertempur menghadapi kehidupan dan tenang jika harus meluruskan tulang belakang diatas kasur.

Apakah tidak adanya anak sampai hari ini membuat kami tidak sedih? Sedih pasti apalagi disaat melihat teman-teman dan saudara ada yang sudah memiliki anak. Ketika kumpul keluarga semua direpotkan menjaga anak, eh aku repot menjaga hati agar tidak kecewa dengan serbuan pertanyaan yang ada membosankans sekaligus menyakitkan.

Honestly, saya masih mencari apa alasan saya bahagia hingga hari ini. Banyak hal kecil yang sebenarnya semua orang bisa lakukan tapi enggan. Setidaknya sampai hari ini saya bisa pergi berduaan kemana-mana tanpa memikirkan 'repotnya' kalau bawa anak. Tidak pernah pergi dengan modus mau ajak anak jalan-jalan adalah kebahagiaan sendiri. 
Setiap malam bisa tidur dengan tenang dan nyenyak kemudian bangun dengan tubuh lebih fresh kecuali kerjaan mendekati deadline, kalau itu mah mules seharian hehe

Oh iya, kalau mau cari makanan nggak perlu cari yang kids friendly karena yhaaa buat apa bawa anak juga enggak kan. Mau pergi kemana-mana bisa dengan naik motor aja, kalau punya anak pergi jauh naik motor kan kasian. Takut sakit dan segala macamnya. Mau coba hal-hal ekstrim pun masih berani karena risiko ditanggung sendiri.

Sementara itu mas suami, masih bisa touring dengan motor kesayangannya. Sedangkan saya masih bisa kuliah dengan tenang dan bisa selalu mengerjakan tugas dengan sempurna, masih bisa pergi sama teman kapan pun saya mau. Oh iya, tentu saja saya bisa bekerja dari pagi ke pagi. Tidak pernah merasa berdosa karena mengabaikan anak, ya kan tidak punya anak biologis. 

Hingga beberapa waktu lalu, saya menyadari bahwa kebahagiaan itu benar-benar harus diciptakan dan disyukuri. Karena bahagia itu untuk siapa lagi kalau bukan untuk diri sendiri?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

5 Tahun Pernikahan : Anak bukan Alasan Tunggal Kami Bahagia

Pernikahan yang terjadi di sekeliling saya secara tersirat banyak yang tujuan utamanya adalah memiliki anak. Setidaknya bagi saya hal itu di...